Tari Piring: Sejarah, Makna, Gerakan dan Keunikannya

Tari Piring – Ketika kita mendengar kata Sumatera Barat biasanya yang teringat di pikiran adalah Rumah Gadang. Padahal kekhasan dari Sumatera Barat bukan hanya Rumah Gadang, ada pula salah satu kesenian dari Sumatera Barat yang sangat terkenal bahkan sudah mendunia. Apa hayo? Ya, benar sekali, sahabat Tedas.id. Kesenian itu adalah tari piring.

Tari Piring berasal dari Minangkabau, tepatnya di kota Solok, Sumatera Barat. Tarian ini memiliki sejarah yang panjang. Nanti kita akan mencari tahu sejarahnya lebih dalam ya. Namun sekarang ini, Tari Piring lebih banyak ditampilkan pada upacara adat, misalnya upacara pengangkatan penghulu, pernikahan ataupun khitanan.

Tak jarang tari ini disajikan saat ada warga yang syukuran karena mendapat rezeki panen hasil bumi yang melimpah. Dulu hanya orang-orang kaya saja yang mampu mementaskan tarian ini, namun seiring berjalannya waktu, tari ini juga dipentaskan dalam acara kenegaraan dan dalam rangka menyambut kehadiran tamu-tamu besar.

Sejarah Tari Piring

tari piring berasal dari
Image: travel.tempo.co

Masyarakat Minangkabau dulunya menciptakan Tari Piring sebagai ritual kepada dewa-dewa untuk mengalirkan rasa syukur mereka ketika hasil panennya melimpah ruah.

Dalam melakukan ritual syukur tersebut, masyarakat Minangkabau membawa banyak sesaji makanan yang ditaruh di berbagai piring. Piring-piring tersebut tidak hanya dibawa begitu saja, namun dibawa dengan menggunakan gerakan yang khusus, unik dan teratur. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan dengan iringan musik sehingga menjadi gerakan yang berirama sangat indah.

Jadi awalnya dulu, Tari Piring tidak sekedar membawa piring kosong seperti yang kita tahu sekarang ini. Piringnya berisi hasil-hasil panen tergantung daerahnya masing-masing. Ada yang berisi sayur, buah, dan aneka rupa hasil panen lainnya.

Baca Juga  14 Macam Tarian Maluku dan Nilai Filosofinya

Tari Piring terus berkembang menjadi semakin besar hingga zaman kerajaan Sriwijaya. Tarian tersebut kemudian tidak hanya sekedar menjadi ritual, namun juga dipentaskan dalam rangka menyambut tamu dan memberikan penghiburan pada raja.

Pada abad ke 16, saat Kerajaan Sriwijaya dikalahkan oleh Majapahit, Tari Piring tetap moncer. Tarian tersebut justru semakin dikenal di berbagai penjuru pulau Sumatera dikarenakan tari tersebut dibawa oleh orang Sriwijaya yang melarikan diri ketika kerajaan runtuh. Dari situlah Tari Piring semakin tersebar di semua Suku Minangkabau dengan sentuhan dan pengaruh Melayu yang sangat kental.

Hingga kemudian agama Islam masuk ke Minangkabau, Tari Piring tidak ditampilkan lagi sebagai bentuk ritual kepada dewa, namun hanya berupa hiburan untuk warga. Tari tersebut dipentaskan pada acara-acara adat.

Makna Tari Piring

Piring adalah satu-satunya properti tari piring yang dibawa dalam tarian tersebut. Properti dalam sebuah tarian pasti mengandung makna, dan tidak asal-asalan. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah Tari Piring, bahwasanya piring yang dibawa adalah tempat untuk meletakkan hasil panen sebagai bentuk rasa syukur kepada dewa.

Maka jika ditarik ke zaman sekarang, makna Tari Piring yaitu sebuah tarian adat yang ditampilkan sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikanNya. Baik berupa kesehatan, makanan, dan juga negeri yang damai.

Ragam Gerakan dalam Tari Piring

Gerakan dalam Tari Piring
Image: minangtour.com

Saat melihat pementasan Tari Piring, mungkin kita seakan hanya melihat gerakan penari-penari yang membawa 2 buah piring diletakkan di atas telapak tangan, disertai dengan iringan musik. Namun sebenarnya gerakan-gerakan yang dilakukan para penari tersebut memiliki nama yang berbeda-beda.

Ada gerakan yang dinamai Pasambahan, Mencangkul, Singanjuo Lali, Membuang Sampah, Menyiang, Memagar, Bertanam, Mencabut, Bening hingga gerakan Melepas Lelah.

Lalu ada juga gerakan lain yang seakan-akan seperti gerakan orang yang sedang mengambil, menampi dan menggampo padi, gerakan mengantar juadah, gerakan menyambut, menganginkan, membawa, mengikir dan menumbuk padi, serta ada pula gerakan melakukan gotong royong. Gerakan paling terakhir yaitu gerakan yang sangat fenomenal, yaitu menginjak pecahan kaca.

Jika kita runut setiap gerakan dalam tarian khas Minangkabau ini sebenarnya menceritakan tentang rutinitas keseharian warga dalam berikhtiar mencari rezeki. Yang kemudian ditutup dengan menyampaikan rasa syukur kepada dewa-dewa atas berkah lewat hasil panen yang melimpah.

Keunikan Tari Piring

Keunikan Tari Piring
Image: kumpulanilmu.com

Meski kini Tari Piring tak lagi dipentaskan sebagai ritual syukur kepada para dewa, tarian ini masih terus dikembangkan dan dilestarikan sebagai tari tradisional Minangkabau. Gerakan-gerakan uniknya banyak menarik perhatian dari para penikmat. Setidaknya ada 7 keunikan tarian asal Minangkabau ini, antara lain:

1. Piring Sebagai Properti Utama

Piring selain mengandung makna yang dalam, juga menjadi pembeda tarian ini dengan tarian tradisional lainnya. Keahlian penari dalam mengayunkan piring juga menjadi hal yang sangat menarik.

Bahkan konon piring yang digunakan pun bukan piring biasa. Piring yang digunakan dalam menyajikan tarian ini yaitu piring porselen dari Cina. Tidak ada latar belakang khusus, namun dari penelusuran tim Tedas.id, piring tersebut disarankan untuk digunakan dalam pentas Tari Piring karena memiliki nilai estetika yang sangat tinggi.

2. Memiliki Gerakan yang Unik

Butuh keahlian yang sangat mumpuni untuk bisa membawa piring di atas kedua telapak tangan. Bahkan bukan hanya sekedar diam, namun juga diayun-ayunkan lalu diputar mengikuti irama musik yang mengiringinya. Hebatnya, tidak ada satu pun piring yang jatuh saat tarian ini dipentaskan.

Baca Juga  Mengenal Tari Merak, Tarian Tradisi Jawa Barat

3. Diiringi dengan Beragam Alat Musik

Tarian ini tidak berupa gerakan yang berdiri sendiri, namun juga diiringi dengan beragam alat musik. Ada rebana, gong dan juga alat musik lain yang menghasilkan irama tersendiri. Namun ada dua jenis alat musik yang tidak boleh ketinggalan, yaitu Saluang dan Talempong.

Dua alat musik tersebut adalah jenis alat musik khas Minangkabau yang akan menyajikan irama nan unik dan khas. Tari Piring tanpa Saluang dan Talempong bukanlah tari Piring. Yang menjadikan tarian ini semakin khas justru alunan nada yang mengalun dari musik khas Sumatera Barat tersebut.

Selain diiringi dengan alat musik beragam dan juga khas, musik pengiringnya pun juga spesial. Disebut dengan musik penayuhan. Musik ini biasanya memainkan lagu Takhian Sai Tiusung dan Takhi Pikhing Khua Belas. Dua musik yang juga merupakan musik khas Sumatera Barat.

4. Dentingan Cincin dan Piring

Para penari menggunakan cincin khusus saat menampilkan gerakan-gerakan tarian. Dentingan cincin dan piring yang saling beradu menghasilkan bunyi unik dan khas. Bukan sekedar menjadi musik pengiring, dentingan inilah yang semakin memberikan kekayaan dalam khasanah irama Tari Piring ini.

5. Menari di Atas Pecahan Piring

Keunikan lainnya dari tarian khas Minangkabau ini yaitu pola lantai tari piring yang dihasilkan dari pecahan-pecahan piring yang diinjak oleh para penari.

Jika di awal kita dipertontonkan bagaimana hebatnya para penari piring mempertahankan piring agar tetap pada tempatnya. Bahkan saat tempo bertambah semakin cepat, para penari tetap bisa menjaga piringnya agar tidak terjatuh.

Namun di ujung tarian, ada adegan kejutan yang memberikan efek dramatis bagi setiap penikmatnya. Para penari akan melemparkan piring-piring yang mereka bawa hingga kemudian pecahannya berhamburan ke lantai. Lantas para penari pun menari di atas pecahan-pecahan piring tersebut. Sebuah adegan yang tentu saja akan membawa decak kagum tersendiri bagi setiap mata yang menikmatinya.

6. Penari Berjumlah Ganjil

Ada aturan khusus yang harus disepakati dalam penampilan Tari Piring, yaitu jumlah penari yang harus selalu berjumlah ganjil. Jumlah maksimal yaitu 7 dan jumlah minimal yaitu 3 penari. Maka pilihan jumlah penari dalam menampilkan pentas Tari Piring yaitu 3, 5 atau 7 orang.

Jumlah penari yang harus ganjil ini konon berhubungan dengan ilmu mistis. Namun soal kebenarannya tidak ada yang tahu dengan tepat. Makna mengenai jumlah yang harus ganjil pun tidak ada yang memberikan keterangan secara pasti. Namun jika ditarik dengan budaya Islam, bisa jadi angka ganjil dipilih karena Allah menyukai hitungan ganjil.

7. Busana Bernuansa Merah dan Kuning Emas

Jika busana tarian lain mungkin bisa beraneka ragam warnanya dan tidak ada ketentuan khusus. Berbeda halnya dengan Tari Piring yang memiliki warna khas dalam busana yang dikenakannya.

Busana penari didominasi dengan warna merah dan kuning emas, sehingga memberikan efek kemewahan yang tiada tara. Kostum Tari Piring kini juga menjadi salah satu pakaian adat Sumatera Barat.

Selain paduan warnanya yang memang sangat mewah, desain pakaiannya pun tidak main-main. Di bagian akhir artikel ini akan ada penjabaran lebih lengkap mengenai busana Tari Piring.

Busana Tari Piring nan Mewah

Busana Tari Piring
Image: life.108jakarta.com

Seperti disebutkan secara singkat di atas, tak berbeda dengan tarian tradisional lainnya. Tari piring pastinya juga memiliki busana khas pada saat para penari tampil dengan gerakan-gerakannya yang unik.

Busana yang digunakan untuk menampilkan tarian tradisional tersebut dibagi menjadi dua jenis. Pertama, busana untuk penari pria. Yang kedua, busana untuk penari wanita.

Meski ada dua macam busana, namun baik busana untuk pria dan wanita memiliki ciri khas yang senada sehingga saat mereka menampilkan tarian, terlihat sangat kompak. Inilah cerita lengkap mengenai masing-masing busana tarian piring baik untuk penari pria dan wanita:

Baca Juga  Tari Jaipong: Sejarah, Gerakan dan Kostumnya

1. Busana Tari Piring Penari Pria

Kostum yang dikenakan oleh penari-penari pria memiliki ciri yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan busana yang dikenakan oleh penari wanita. Meski ada perbedaan, namun tetap memiliki tanda khusus dari busana khas provinsi Sumatera Barat.

Kostum penari pria bagian atas disebut dengan Rang Mudo. Sebuah busana semacam baju koko dengan lengan panjang. Di sekeliling bagian leher dan di beberapa titik tertentu terdapat hiasan Missia, yaitu hiasan emas yang memberikan kesan mencolok dan mewah.

Sementara bawahan yang dikenakan penari pria disebut dengan Besaran Gelombang. Nama tersebut tak lain karena celana yang dipakai memiliki ukuran yang besar di bagian tengah. Sehingga jika dilihat seperti air yang bergelombang. Warna bawahan ini sama dengan baju atasannya.

Selain Rang Mudo dan Besaran Gelombang, para penari pria juga akan memakai Sisampek dan Cawek Pinggang. Yaitu seperti kain songket yang terikat di bagian pinggang para penari. Kain ini ukurannya panjang, bahkan mencapai lutut. Sisampek dan Cawek Pinggang dihiasi dengan rumbai-rumbai pada bagian ujungnya.

Sedangkan untuk bagian penutup kepala, para penari pria mengenakan Destar. Yaitu penutup kepala khas Minangkabau yang terbuat dari kain songket dengan bentuk segitiga.

2. Kostum Tari Piring Bagi Penari Wanita

Beda dengan penari pria yang memiliki dua bagian busana, para penari wanita hanya menggunakan satu jenis busana saja. Busana yang dikenakan untuk Tari Piring juga merupakan baju tradisional Minangkabau, disebut dengan baju karung.

Berbeda dengan baju karung pada umumnya, khusus untuk menampilkan Tari Piring, baju karung yang digunakan terbuat dari kain satin dan beludru sebagai bahan dasar utama. Warna utama yang digunakan yaitu merah dan emas.

Untuk melengkapi busana tarinya, para penari wanita menggunakan selendang dari kain songket. Kain itu akan disampirkan di bagian pundak kiri. Sementara itu bagian kepala para penari wanita ditutup dengan kain songket yang ditata sedemikian rupa sehingga bentuknya mirip seperti tanduk. Penutup kepala semacam itu disebut juga dengan Tikuluak Tanduak Balapak.

Untuk menambah kemewahan tampilan para penari wanita, mereka juga memakai kalung rumbai, kalung gadang, dan juga subang alias anting-anting.

Sebuah paket busana yang sangat menarik dan juga cantik bukan? Jangan lupa jika sahabat Tedas.id mampir ke Minangkabau, cobalah mengambil foto dengan mengenakan baju khas Minangkabau yang sangat cantik tersebut sebagai kenang-kenangan.

Demikianlah sedikit informasi yang telah berhasil disusun oleh tim tedas.id mengenai tarian asli tanah Minangkabau. Semoga artikel ini bisa menjawab rasa penasaran para sahabat terkait Tari Piring yang sangat fenomenal.

Sebuah tari yang ditampilkan oleh penari pria dan wanita berjumlah ganjil dengan mengenakan pakaian khas Minangkabau. Diiringi dengan alat musik khas yang mengalunkan nada spesial, juga memiliki 12 gerakan yang tiada duanya.

Masih ada banyak lagi jenis tarian dari daerah-daerah lain di Indonesia. Sebelum mencintai budaya dari negeri lain, pastikan kita harus mengenal dan mencintai budaya negeri sendiri.

Silahkan berikan komentar adakah tarian yang ingin sahabat ketahui lebih dalam? Tim Tedas.id akan menyajikan informasi terbaik kepada para sahabat tercinta. Terima kasih untuk tetap setia dengan tedas.id, semoga bermanfaat informasi kami mengenai Tari Piring dan sampai jumpa lagi di catatan berikutnya!

Marita Ningtyas

Marita Ningtyas

A Writerpreneur, tinggal di kota Lunpia. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *