Mengenal 2 Rumah Adat Sulawesi Utara dan Ciri Khasnya

Rumah Adat Sulawesi Utara – Kebudayaan adalah salah satu identitas suatu negara. Bagi bangsa Indonesia sendiri, kebudayaan sudah merupakan kebanggaan tersendiri, karena Indonesia merupakan salah satu dari sedikitnya negara di dunia dengan kekayaan budaya yang melimpah. Dari Sabang sampai Merauke, kebudayaan Indonesia betul-betul berbeda-beda dan sarat akan keunikannya masing-masing.

Tak heran, jika banyak wisatawan lokal maupun mancanegara selalu menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata. Salah satunya Pulau Sulawesi yang juga kerap dikunjungi wisatawan karena kekayaan budayanya. Pulau Sulawesi sendiri merupakan salah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Pulau yang memiliki ciri berbentuk huruf K ini, dibagi lagi menjadi beberapa wilayah, salah satunya Sulawesi Utara.

Biasanya para wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Utara penasaran akan keunikan dari Rumah Adat Sulawesi Utara yang memiliki ciri khas tersendiri. Meski bagi bangsa Indonesia sendiri keberadaan rumah adat sudah tidak asing lagi, namun tetap saja rumah adat dari masing-masing daerah memiliki keunikan tersendiri yang patut untuk dipelajari.

Sebab, seperti namanya, rumah adat merupakan salah satu produk budaya berwujud bangunan yang dapat ditempati dan ditinggali. Rumah adat ini biasanya dibedakan berdasarkan wilayah asal, juga suku pembuatnya. Satu rumah adat tidak dibangun asal, melainkan memiliki perbedaan masing-masing, mulai dari gaya arsitektur, dekorasi, fungsi, bahkan memiliki nilai filosofisnya tersendiri.

2 Rumah Adat Sulawesi Utara

adat sulawesi utara

Images By: Netralnews

Hal-hal tersebutlah yang kemudian menjadikan rumah adat menjadi daya tarik yang memukau banyak wisatawan lokal, maupun internasional. Nah, berikut ini kami telah mengulas beberapa hal megenai Rumah Adat Sulawesi Utara yang dapat dijadikan sebagai sumber utama dalam wawasan berbudaya. Secara spesifik, terdapat sejumlah dua jenis Rumah Adat Sulawesi Utara. Berikut penjelasannya.

1. Rumah Pewaris (Walewangko)

Rumah Adat Sulawesi utara yang pertama dan paling terkenal berasal dari suku Minahasa yang merupakan salah satu suku terbesar yang mendominasi hampir seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Rumah adat ini dikenal dengan nama Rumah Walewangko atau Rumah Pewaris. Persis seperti rumah adat lainnya, Rumah Walewangko sendiri memiliki gaya arsitektur, dekorasi, fungsi, dan nilai filosofi tersendiri.

Seluruh hal yang membentuk wujud dari Rumah Walewangko ini sangat erat kaitannya dengan adat istiadat suku setempat. Kata Walewangko sendiri berasal dari kata wale atau bale. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah rumah yang digunakan untuk melangsungkan berbagai macam aktivitas bagi seluruh anggota keluarga. Jika digabungkan Walewangko, artinya menjadi Rumah Pewaris.

Selain itu, Rumah Walewangko juga sebetulnya merupakan sebuah nama desa yang terletak di Langowan Barat, Sulawesi Utara. Oleh karenanya, rumah adat ini paling banyak ditemukan di daerah tersebut.

Rumah Adat Sulawesi Utara Walewangko ini bentuknya cenderung simetris dari tampak depan. Material yang digunakan untuk membangun rumah adat ini juga masih sangat alami.

Baca Juga  Mengenal 3 Pakaian Adat Kalimantan Barat dan Keunikannya

Bagian konstruksi rumahnya menggunakan kayu yang sangat kokoh dengan ornament yang erat kaitannya dengan adat. Atapnya terbuat dari dedaunan, salah satunya rumbia. Konsep Rumah Walewangko adalah rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penyangga. Jumlah tiang untuk meyangga konstruksi bangunan Rumah Adat Sulawesi Utara Walewangko biasanya sebanyak 16 hingga 18 buah.

Uniknya, ada satu peraturan yang selalu dipegang teguh oleh masyarakat Sulawesi Utara dalam pembangunan Rumah Walewangko ini, yaitu penyusunan tangga yang digunakan untuk menopang rumah ini tidak boleh disambungkan oleh apapun. Artinya, tiang yang digunakan terbuat murni dari kayu yang sangat kuat, sehingga mampu menopang beban yang berat sekalipun.

Rumah Adat Sulawesi Utara yang satu ini memang dibuat besar, karena menurut aturan adat, Rumah Walewangko tidak untuk dihuni satu keluarga saja. Dalam satu Rumah Walewangko, terdapat 6 sampai 9 keluarga yang tinggal bersama-sama di dalamnya. Meski tinggal bersama, setiap keluarga memiliki kepala keluarganya masing-masing dan mengurus urusan rumah tangganya masing-masing pula.

Untuk pembagian ruangan, mulanya Rumah Walewangko hanya terdiri dari satu ruangan saja. Kemudian, seiring berkembangnya zaman, dibentuk beberapa bagian dalam rumah adat ini yang dipisahkan oleh tali ijuk dengan tikar yang digantungan. Secara garis besar, terdapat dua bagian dalam rumah, yaitu bagian depan dan bagian belakang, serta tambahan bagian kolong yang semuanya memiliki fungsi berbeda.

Bagian depan rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Lesar, Sekay, dan Pores. Perbedaannya adalah sebagai berikut:

• Lesar merupakan beranda pada rumah yang dilengkapi dinding dan berfungsi sebagai tempat bagi kepala suku dan pemangku adar melangsungkan pidato pada penduduk lokal.

• Sekay merupakan serambi yang dindingnya terletak persis di belakang pintu rumah dan berfungsi untuk menjamu para tamu saat mengadakan sebuah acara, serta musyawarah adat.

• Pores hampir serupa Sekay, yaitu bagian ruangan untuk menerima tamu. Hanya saja, tamu yang boleh masuk bagian pores hanyalah yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik rumah. Fungsi bagian ini adalah sebagai tempat berkumpulnya seluruh keluarga besar.

Pada bagian belakang rumah terdapat beberapa ruangan yang digunakan sebagai tempat menyimpan peralatan masak dan peralatan makan para pemilik rumah. Ada juga ruangan cuci dan Soldor yang berbentuk loteng. Soldor berfungsi sebagai tempat penyimpanan seluruh hasil panen.

Sementara itu, bagian kolong rumah pun tidak dibiarkan terbengkalau begitu saja. Suku Minahasa terbiasa memanfaatkan kolong rumah mereka sebagai tempat penyimpanan ragam alat pertanian dan benda sisa membuat rumah atau memasak, misalnya kayu-kayuan, kayu bakar, papan, balok, gerobak, dan sebagainya. Bagian kolong juga biasa diguanakan sebagai kandang hewan ternak dan peliharaan.

2. Bolaang Mongondow

rumah adat dari sulawesi utara

Images By: Elizato.com

Rumah Adat Sulawesi Utara lainnya adalah Rumah Adat Bolaang Mongondow. Nama ini diambil dari nama sebuah wilayah yang terletak di provinsi Sulawesi Utara. Meski rumah adat ini tidak sepopuler Rumah Adat Walewangko, namun Rumah Bolaang Mongondow memiliki keunikan tersendiri yang juga sangat menarik untuk dipelajari atau sekadar diketahui.

Konstruksi Rumah Adat Sulawesi Utara yang satu ini serupa dengan Rumah Walewangko yang juga terbuat dari kayu. Konsepnya pun serupa, yaitu rumah panggung dengan tiang yang jumlahnya cukup banyak.

Ciri khas yang paling mencolok dari rumah adat ini adalah desain atapnya yang dibuat melintang dengan bubungan atap yang curam. Perbedaan yang paling jelas antara Rumah Walewangko dengan Rumah

Bolaang Mongondow ada pada bagian akses masuknya. Jika pada Rumah Adat Walewangko terdapat dua akses masuk menggunakan tangga pada sisi kanan dan kiri, pada Rumah Adat Bolaang Mongondow hanya terdapat satu tangga yang letaknya di bagian depan rumah saja. Serambi pada rumah adat ini pun tidak memiliki dinding.

Berbeda dengan Rumah Adat Sulawesi Utara Walewangko, Rumah Adat Bolaang Mongondow tidak terlalu banyak memiliki ruangan-ruangan di dalamnya. Secara garis besar, di dalam rumah adat ini hanya terdapat ruang depan, ruang induk, dan ruang tidur. Ada juga ruang makan dan dapur yang diletakkan pada bagian belakang rumah.

Baca Juga  Baju Adat Sumatera Barat dan Jenis-Jenis Aksesorisnya

Rumah Adat Bolaang Mongondow asli yang telah dibangun ratusan tahun lalu bisa dijumpai di Kabupaten Bolaan Mongondow, Sulawesi Utara. Rumah yang dihuni oleh seorang penduduk lokal berusia 80 tahun ini, sudah ditempati oleh leluhur yang hidup 3 generasi sebelum mereka. Menariknya, konstruksi Rumah Adat Sulawesi Utara ini tidak pernah direnovasi sedikitpun dari awal pembangunan rumah.

Hal ini bisa dijadikan bukti, bahwa memang kekuatan kayu yang dijadikan konstruksi Rumah Adat mongondow sangat kuat. Begitu juga dengan material lainnya yang digunakan untuk membuat rumah adat ini. Padahal, semua bahan-bahan yang dibangun untuk membuat bangunan rumah adat ini menggunakan bahan alami.

Demikian ulasan yang bisa kami sampaikan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan Rumah Adat Sulawesi Utara. Kedua jenis rumah adat yang populer di Sulawesi Utara ini patut dijadikan cagar budaya dan dipertahankan oleh suku yang membuatnya. Sebab, rumah adat merupakan salah satu identitas negara Indonesia yang kaya dengan budaya dan alamnya yang indah.

Jadi, sudah seharusnya bangsa Indonesia memahami kebudayaan negaranya sendiri di tengah gempuran produk budaya dari luar. Dengan selalu mengenal budaya Indonesia secara dalam dan memperkenalkannya ke dunia luar, bangsa Indonesia bisa lebih mencintai negaranya sendiri, tanpa harus menutup mindset dan diri akan dunia luar.

Dika Permana

Dika Permana

Hidup di dunia maya ditemani suara keyboard yang nyaring berbunyi. Yuk jelajahi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *