Baju Adat Bali: Ketahui 7 Jenis dan 3 Tingkatannya

Baju Adat Bali – Bali adalah satu pulau dan provinsi di Indonesia yang terkenal dengan keindahan tempat wisatanya. Bahkan banyak wisatawan manca negara yang lebih mengenal Bali daripada Indonesia itu sendiri

Tentu saja sudah jadi tanggung jawab kita sebagai warga negara Indonesia untuk menginformasikan kepada dunia bahwa Bali adalah bagian dari nusantara.

Semua hal tentang Bali memang istimewa. Tariannya, bahasanya, budayanya dan juga baju adat Bali pun memiliki keistimewaan tersendiri. Sebagaimana pakaian khas di setiap daerah, pakaian daerah Bali pun memiliki ciri yang unik dan istimewa.

Sedikit yang tahu bahwa pakaian khas Bali memiliki 7 jenis dan 3 tingkatan yang berbeda. Jika teman-teman ingin tahu, silakan baca lebih lanjut.

Ciri Khas Pakaian Daerah Bali

baju bali

Hal yang membedakan pakaian daerah Bali dengan pakaian daerah lainnya tentu saja cara pemakaian, kain yang digunakan dan juga filosofi yang berbeda di setiap jenis serta tingkatannya. Sebagaimana budaya Bali yang penuh makna, pakaian Bali pun tak lepas dari historical dan filosofi yang mendalam.

Salah satu yang menjadi ciri khas baju adat Bali yaitu penggunaan jenis pakaian yang berbeda untuk setiap acara yang akan dilangsungkan. Mungkin sebagian besar kita hanya tahu pakaian adat Bali untuk para perempuan yang terbuka di bagian bahu. Ternyata tak semua jenis pakaian untuk perempuan Bali selalu terbuka. Ada pula jenis-jenis pakaian yang tertutup untuk digunakan pada acara-acara tertentu.

Selain jenis pakaian dan peruntukannya yang berbeda, ciri khas lainnya dari baju adat Bali yaitu selalu dilengkapi dengan bunga di telinga. Bunga ini menambah keindahan tata busana adat Bali.

7 Jenis Baju Adat Bali

pakaian daerah bali

Seperti yang telah diungkapkan di bagian awal, bahwa salah satu ciri khas busana adat Bali yaitu ada berbagai jenis dan peruntukan. Nah, sekarang saatnya kita mencari tahu apa sajakah jenis-jenis baju adat Bali.

1. Kemeja Putih

Tidak ada aturan khusus bagi masyarakat Bali ketika ingin bersembahyang. Namun seperti sudah menjadi kebiasaan umum, ketika sembahyangan, sebagian besar warga memilih menggunakan kemeja putih. Sementara untuk para perempuan biasanya menggunakan kebaya atau encim berwarna putih.

Salah satu alasan mengapa kemeja atau kebaya berwarna putih menjadi pilihan baju sembahyang bagi warga Bali karena filosofi warna putih itu sendiri. Seperti yang kita tahu putih berarti suci dan sakral. Begitu juga ketika para warga Bali sedang bersembahyang, mereka berupaya untuk menyucikan dirinya dalam ritual sakral yang berarti dan bermakna untuk kehidupan.

2. Pusung (Sanggul)

Tak berbeda dengan pakaian khas daerah lain di Indonesia, perempuan Bali juga memiliki sanggul yang khas untuk melengkapi tata busana adatnya. Sanggul untuk perempuan Bali biasa disebut dengan Pusung. Diletakkan di atas kepala untuk memberikan hiasan bagi rambut yang telah digelung rapi. Pusung ini memiliki filosfofi bahwasanya setiap perempuan berhak mengenakan mahkota. Karena setiap perempuan adalah ratu di setiap rumahnya masing-masing.

Pusung dibuat dari rangkaian bunga berwarna-warni, biasanya warnanya akan disesuaikan dengan kebaya yang digunakan. Pusung sendiri ada dua macam, yaitu Pusung genjer dan pusung kepupu. Pusung gonjer biasa digunakan oleh perempuan yang belum menikah alias masih lajang. Sementara pusung kepupu digunakan bagi perempuan yang telah menikah.

Perbedaan pusung ini bukan untuk mengkotak-kotakkan perempuan berdasarkan statusnya. Hanya untuk menjadi pengingat bahwasanya perempuan yang telah menikah memiliki tanggungjawab berbeda dari para perempuan yang masih lajang.

Baca Juga  Mengenal Lebih Dekat Rumah Adat Aceh dan 8 Ciri Khasnya

3. Selendang

Selendang ini merupakan pelengkap pakaian khas Bali. Bagi para wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali dan ingin mengunjungi tempat sembahyang, jika tidak memungkinkan untuk mengenakan pakaian adat Bali secara lengkap, cukup menggunakan selendang saja sudah bisa diberi izin untuk masuk ke dalam.

Selembar selendang ternyata memiliki filosofi yang tak sederhana. Selendang yang menjadi pembatas antara bagian tubuh atas dan bawah ini, ternyata diartikan sebagai pengikat hawa nafsu dan tingkah laku yang tak baik.

Selendang menjadi pengingat bagi pemakainya bahwa saat memasuki tempat suci, tingkah laku dan hawa nafsu buruk harus dikendalikan. Sebagaimana ketika nanti kaki telah melangkah keluar dari tempat sembahyang, diharapkan hawa nafsu yang tadinya dikekang akan tetap terkontrol dan selamanya tetap baik.

4. Kebaya Bali

Sekilas kebaya Bali tampak tidak berbeda dengan kebaya Jawa. Namun jika kita perhatikan dengan seksama, kebaya Bali memiliki khas di mana bagian bahu memiliki bukaan. Kebaya Bali juga memiliki semacam sabuk di bagian tengah dada. Biasanya sabuk ini dilengkapi juga dengan selendang yang menjuntai ke bawah. Baik sabuk dan selendang adalah pelengkap kebaya yang tak boleh ditinggalkan.

Filosofi yang dalam mengenai pengikatan hawa nafsu serta penyucian diri dari tingkah laku yang buruk tergambar melalu satu set kebaya Bali. Hampir setiap di Bali ada ritual yang dilaksanakan. Maka jangan heran ketika setiap hari ketika melihat banyak perempuan mengenakan kebaya.

Namun sebenarnya kebaya Bali dikenakan untuk beberapa ritual khusus seperti hari raya, pernikahan, sembahyang ataupun acara-acara penting lainnya. Apa teman-teman tertarik untuk berfoto mengenakan kebaya Bali? Sepertinya menarik untuk dicoba!

5. Kamen

Kamen yaitu bagian dari pakaian adat Bali, yang merupakan kain terlilit di bagian bawah tubuh. Biasanya kamen hanya digunakan oleh penduduk asli Bali sebagai pembeda dengan pendatang. Secara sekilas, bentuk kamen ini seperti sarung, namun motifnya khas dan cara penggunaannya pun berbeda.

Kamen dibuat dari kain tipis. Baik perempuan dan laki-laki memiliki kamennya masing-masing. Cara penggunaannya pun berbeda. Untuk laki-laki, kamen biasanya digunakan berbarengan dengan kain lainnya yang disebut dengan saput. Kamen diletakkan dibagian bawah kain Saput dan Saput berada di atas Kamen.

Cara menggunakan kamen yaitu dililitkan melingkar di pinggang dari kiri ke kanan. Lalu dibuat simpul di bagian depan agar tidak lepas. Simpul ini memiliki filosofi untuk mengikat keinginan dan tingkah laku yang buruk, serta kesiapan untuk senantiasa berbuat baik.

Kamen untuk perempuan cara penggunaannya hampir sama. Yaitu dililitkan melingkar pinggang dari kiri ke kanan. Bedanya tidak dibuat simpul di bagian depan, namun diikatkan pada selendang yang dibawanya. Ikatan antara kamen dan selendang ini memiliki filosofi yaitu penyatuan antara niat dan tingkah laku agar senantiasa sejalan.

6. Udeng

Yaitu ikat kepala khas untuk para pria Bali. Udeng memiliki filosofi sebagai pengikat dan penyucian agar jauh dari pikiran kotor, dan otak hanya fokus pada hal-hal yang bermanfaat untuk kebaikan. Udeng juga menjadi salah satu syarat wajib yang harus dikenakan saat seseorang ingin bersembahyang atau memasuki tempat persembahyangan.

7. Baju Safari

Baju safari memiliki fungsi yang sama dengan kemeja. Bedanya baju ini biasa digunakan saat ritual harian ke pura atau candi. Baju safari jika dilihat sekilas seperti baju koko berlengan pendek. Warna yang umum digunakan adalah putih, dan dipadukan dengan Kamen. Tentu saja tak lupa udeng dipakai di kepala.

Itulah beragam jenis pakaian khas Bali yang tak hanya indah dan unik, namun juga memiliki filosofi yang dalam di setiap jenisnya.

3 Tingkatan Baju Adat Bali

pakaian khas bali

Selain memiliki jenis-jenis yang berbeda, pakaian khas Bali juga memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan dalam tata busana khas Bali dibedakan menurut tujuan penggunaannya. Berikut ini adalah tingkatan-tingkatan baju adat Bali:

1. Payas Alit

Jenis tingkatan baju khas Bali ini adalah tingkatan yang paling rendah. Artinya busana ini bisa digunakan dalam ritual ibadah keseharian. Payas Alit dikenakan oleh penduduk Bali ketika mereka pergi beribadah ke pura. Ciri khas dari baju ini yaitu warnanya yang putih bersih.

2. Payas Madya

Payas Madya adalah tingkatan pakaian yang berada di tengah. Artinya pakaian ini adalah jenis tingkatan yang fleksibel, bisa digunakan untuk kegiatan harian dan juga untuk ritual ibadah. Untuk mengenakan jenis pakaian Payas Madya juga tidak ada aturan yang terlalu ketat.

Baca Juga  4 Jenis Rumah Adat DKI Jakarta dan Bagian-Bagiannya

3. Payas Agung

Ini adalah pakaian dengan tingkatan paling tinggi. Pakaian paling mewah dan tidak boleh digunakan secara asal-asalan. Biasanya digunakan untuk acara penikahan atau ritual-ritual keagamaan yang tingkatannya tinggi. Pakaian ini memiliki perpaduan warna antara merah, putih dan emas. Dipadukan dengan mahkota yang ukurannya besar. Mahkota ini tidak hanya diperuntukkan bagi laki-laki, namun juga untuk perempuan.

Payas Agung yang dikenakan oleh laki-laki biasanya dilengkapi dengan keris dan kain bawahan serupa songket yang berdesain mewah. Payas Agung yang digunakan untuk perempuan merupakan perpaduan antara kain sesanteng yang dililitkan pada bagian tubuh atas dengan kain songket mewah sebagai pakaian bagian bawah.

Sungguh indahnya baju adat Bali dengan segala jenis, tingkatan dan filosofinya. Memahami ciri khas yang dimiliki oleh sebuah pakaian adat daerah tertentu membuat kita bisa lebih menghargai dan mengapresiasi setiap perbedaan yang ada. Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia yah Sahabat Tedas.id.

Marita Ningtyas

Marita Ningtyas

A Writerpreneur, tinggal di kota Lunpia. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *