Apa Itu Gadget? Dan Apa Sajakah Fungsi Bagi Kehidupan?

Apa Itu Gadget – Di zaman yang serba canggih ini, siapa pun orangnya, mulai dari usia muda hingga lansia, hampir tak ada yang tidak mengenal gadget. Bahkan banyak dari mereka yang juga menggunakannya.

Mungkin di sekitar Anda, sering kali Anda temui anak-anak Taman Kanak-kanak yang membawa gadget ke sekolah atau para lansia yang menggunakan gadget di rumah untuk sekadar hiburan. Artinya, gadget sudah menyetuh setiap lapis usia.

Mungkin tanpa sadar Anda sendiri sering bergidik, “Ih, anak kecil kok udah main gadget sih?” atau “Buat apa sih orang setua itu pegang gadget?” Jika Anda sering kali bergidik seperti ini, artinya Anda telah menanamkan dalam mindset Anda, bahwa gadget sebaiknya digunakan oleh orang-orang yang sudah cukup umur, orang yang berkarier atau bekerja, atau mungkin anak usia sekolah yang sudah cukup umur dan menggunakan gadget untuk belajar.

manfaat gadget
Apa Itu Gadget ?

Gadget merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris yang artinya perangkat elektronik kecil dengan fungsi khusus. Berbeda dengan alat elektronik lainnya, gadget merupakan unsur kebaruan, artinya dari hari ke hari gadget selalu hadir dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.

Selama ini mungkin sebagian orang menganggap bahwa gadget hanya telepon pintar (smartphone) saja. Padahal kenyataannya gadget juga meliputi iphone, blackberry, notebook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet), tablet dan iPad, kamera digital, serta headset/headphone.
pro kontra gadget

Pro dan Kontra Penggunaan Gadget

Berbicara mengenai fungsi gadget, dengan mudah kita akan mengatakan untuk internet, video, kamera, chatting, game, media sosial, musik, nonton film, MS. Word, dan tentunya masih banyak lagi. Dengan berbagai kecanggihan yang disuguhkan gadget, sepertinya itu akan memudahkan Anda untuk bekerja dan belajar, juga mencari hiburan tentu saja. Tetapi pernahkah sebentar saja Anda berpikir dampak negatif dari penggunaan gadget?

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa anak usia taman kanak-kanak atau lebih di bawahnya lagi sudah mulai mengenal gadget. Jika si orangtua ditanya mengapa anaknya memegang gadget, mereka dengan santai akan menjawab untuk berkomunikasi dengan kami – orangtua – dan belajar.

Padahal dalam berbagai ilmu parenting mengatakan bahwa memberi gadget pada anak pada usia-usia tersebut dapat memengaruhi kedekatannya dengan orangtua. Terlebih jika mereka tidak terkontrol dalam penggunaannya.

Baca Juga  Cara Meredupkan Layar Komputer Pada Windows

Padahal usia tersebut adalah usia emas di mana orangtua sebaiknya berperan aktif dalam pembelajaran anak secara langsung melalu praktik-praktik untuk membantu perkembangan otak mereka.

Artinya, sangat disayangkan jika seorang anak dalam usia tersebut dibiarkan berlarut-larut bermain dengan gadget-nya tanpa melakukan praktik langsung seperti bermain musik, mendengarkan dongeng yang dibacakan ibu atau ayahnya, berhitung dengan jari, berkenalan dengan alam dan binatang dan sebagainya. Tentu aktivitas yang dilakukan secara langsung ini akan melatih perkembangan motoriknya.

Hal di atas hanyalah contoh kecil dari penggunaan gadget yang kurang tepat. Di media sosial masih bisa kita temukan lebih banyak. Misalnya, curhat sembarangan di media sosial, menjelek-jelekan orang lain, dan sebagainya. Terkadang orang hanya sibuk bermain dengan gadget tanpa benar-benar tahu dampak negatif yang mengincar dirinya, hidupnya, juga keselamatannya.

bahaya gadgetKapan Usia yang Tepat untuk Memiliki Gadget Sendiri?

Pakar psikologi mengatakan bahwa usia rata-rata anak memiliki gadget sendiri adalah usia 12 tahun. Usia tersebut merupakan usia yang ideal, meski sebagian memilih usia 14 tahun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Bill Gates, sosok legendaris pencipta Microsoft ini baru memberikan ponsel untuk ketiga anaknya saat mereka memasuki usia 14 tahun. Menurut Bill Gates, dengan menunda memberikan ponsel pada anak, akan banyak manfaat yang positif bagi anak.

Lain halnya dengan James P. Steyer, Kepala Common Sense Media, salah satu organisasi nonprofit yang menganalisa konten dan produk untuk keluarga. Menyatakan bahwa ia memiliki batasan tegas soal kepemilikan ponsel untuk anak-anaknya, sehingga ia baru memberikan ponsel saat anak-anaknya memasuki bangku SMA, setelah mereka belajar dan menghargai komunikasi tatap muka.

Tetapi Steyer sendiri juga mengatakan bahwa bisa saja seorang anak mendapatkannya dalam usia muda. Sebab usia tidak menjadi patokan, melainkan kedewasaan dan tanggung jawablah yang menjadi patokan. Jadi, meski dalam usia lebih muda, tetapi jika anak telah memiliki kedewasaan dan tanggung jawab dalam penggunaan gadget, tentu ini bukan yang terlalu dipermasalahkan jika mereka memiliki gadget.

Baca Juga  Mau Ganti HP? Ini Review Iphone 11 Harga dan Spesifikasinya

Kedewasaan dan tanggung jawab dalam penggunaan gadget ini perlu digarisbawahi, mengingat selama ini gadget bukan hanya menjadi ancaman bagi anak-anak. Orang dewasa pun bahkan bisa rusak dan terancam keselamatan sekaligus masa depannya hanya karena penggunaan gadget yang tidak bertanggung jawab.

Berapa banyak kasus yang sudah diajukan ke meja hijau hanya karena soal pencemaran nama baik yang terjadi melalu media sosial di mana pelakunya adalah orang-orang yang sudah dewasa. Berapa banyak kasus orang yang kecanduan gadget dan akhirnya harus mendekam di panti rehabilitas.

Dewasa kini, sebaiknya penggunaan gadget bukan hanya sekadar untuk gengsi semata, melainkan juga harus lebih bijak dan bertanggung jawab. Sebab sering kali keselamatan seseorang bisa saja terancam hanya karena status kecil yang mereka buat. Sebaiknya kita belajar untuk mengembalikan gadget kepada fungsinya yaitu memudahkan pekerjaan manusia ke arah yang lebih positif dan bukannya memudahkan manusia untuk terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.

Dika Permana

Dika Permana

Hidup di dunia maya ditemani suara keyboard yang nyaring berbunyi. Yuk jelajahi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *