Ketahui Sejarah Perundingan Linggarjati dan Isinya Disini

Perundingan Linggarjati – Perjalanan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan sebagai negara yang berdaulat tentunya menempuh jalan yang panjang. Upaya untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dengan melawan penjajah di medan tempur, namun langkah diplomasi juga ikut ditempuh.

Banyak sekali perjanjian dan perundingan yang ditempuh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, salah satunya perundingan Linggarjati. Perundingan ini dilakukan dua negara antara Indonesia dan Kerajaan Belanda, bagaimana sejarah perundingan tersebut?

Sejarah Perundingan Linggarjati

Perundingan yang satu ini dilaksanakan di sebuah daerah bernama Linggarjati. Daerah ini berada di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Perundingan ini menghasilkan perjanjian Linggarjati tentang kesepakatan antara Indonesia dan Belanda terhadap pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Perjanjian ini ditandatangani kedua negara pada 25 Maret 1947. Sementara itu, jalannya perundingan berlangsung pada 11-13 November 1946. Perundingan ini sebelumnya hanya ditandatangani oleh pihak Indonesia di istana negara pada 15 November 1946.

Latar Belakang Perundingan Linggarjati

perjanjian linggarjati

Images By: Kompas.com

Perundingan ini tentunya dilakukan tidak dengan tanpa alasan. Hal mendasar yang menjadikan latar belakang terjadinya perundingan Linggarjati adalah masuknya pasukan sekutu ke Indonesia padahal Indonesia telah menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Tentara AFNEI masuk ke Indonesia pada 29 September 1945. Awalnya kedatangan AFNEI ke Indonesia memiliki peran positif sebagai pasukan yang melucuti senjata Jepang yang sebelumnya menduduki Indonesia selama tiga setengah tahun. Namun, kedatangan tentara ini ternyata diboncengi oleh Netherland Indies Civil Administration (NICA).

Tentunya adanya peran NICA yang turut serta masuk ke Indonesia menimbulkan kecurigaan dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. Kecurigaan tersebut adalah adanya kemungkinan Belanda ingin kembali menguasai Indonesia setelah Jepang berhasil dikalahkan.

Meski Indonesia telah merdeka, maka perlu diadakan bentuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah yang ingin kembali menguasainya. Oleh karena itu, sepanjang tahun setelah kemerdekaan Indonesia banyak meletus konflik dan peperangan antara warga Indonesia dengan pasukan Belanda dan sekutu.

Baca Juga  Mengenal Isi Perjanjian Roem Royen dan Perundingannya

Sebut saja peristiwa di Ambarawa, peristiwa 10 November di Surabaya, serta pertempuran Merah Putih di Manado. Semua peristiwa ini tentunya membuat kedua belah pihak tidak nyaman atas situasi ini. Oleh karena itu, Belanda dan Indonesia sepakat untuk melakukan perjanjian sesuai keinginan kedua belah pihak tersebut.

Proses jalannya perjanjian ini cukup panjang. Sebelum perundingan ini terjadi berbagai proses lainnya diplomasi lainnya. Namun, perundingan ini mengalami kegagalan dalam proses perundingannya. Perundingan-perundingan yang mengalami kegagalan ini seperti perundingan Hooge Veluwe dan perundingan 7 Oktober.

Oleh karena itu, dilakukanlah perjanjian yang dilaksanakan di rumah warga Belanda yang berada di daerah Linggarjati. Perundingan ini cukup dilaksanakan dengan lancar serta menghasilkan kesepakatan yang cukup adil bagi kedua belah pihak.

Tokoh-Tokoh Perjanjian Linggarjati

hasil perundingan linggarjati

Images By: Elnuha

Dalam melaksanakan proses perundingan ini, terdapat tokoh-tokoh yang berperan penting dalam menjalankan proses perjanjian tersebut. Terdapat tiga pihak yang berasal dari Indonesia, Belanda, dan juga Inggris sebagai pihak penengah. Bobot pihak ini dirasa cukup sesuai dan imbang untuk melakukan sebuah perundingan dengan hasil yang adil.

Tokoh yang berasal dari pihak Indonesia adalah Sutan Sjahrir. Ia merupakan ketua dari perundingan ini. Selain itu terdapat pula anggota lainnya yaitu Dr. A. K. Gani serta Mr. Susanto Tirtoprojo, S.H. Ketiga perwakilan ini merupakan perwakilan terbaik Indonesia yang telah menghasilkan perjanjian Linggarjati tersebut.

Baca Juga  Perjanjian Bongaya: Cara Belanda Lemahkan Kesultanan Gowa

Sementara itu, tokoh yang berasal dari Belanda diwakili oleh Prof. Schermerhorn sebagai ketua perundingan dari Belanda. Ada pula tokoh lainnya yang berasal dari Belanda yaitu, Van Pool dan De Boer. Ketiga tokoh ini juga cukup kooperatif dalam menjalankan perundingan.

Sementara itu, ada pula perwakilan dari Inggris yang menjadi pihak penengah dalam melaksanakan perundingan ini. Selain itu, pihak ini cukup dibutuhkan untuk menjadi penengah jika terjadi konflik.

Tokoh dari Inggris adalah Lord Killearn. Selain pihak peserta perundingan dan penengah, ada pula saksi yang juga hadir untuk menyaksikan perundingan tersebut. Tamu yang datang sebagai saksi tersebut adalah Amir Syarifudin, dr. Leimena, dr. Sudarsono, dan Ali Budiharjo. Selain itu, hadir pula presiden dan wakil presiden saat itu yaitu Ir. Soekarno dan Dr. Moh. Hatta.

Mengenal Isi Perjanjian Linggarjati

Images By: Nasional.okezone.com

Perundingan Linggarjati ini tentunya menghasilkan sebuah perjanjian yang diberi nama perjaanjian Linggarjati. Isi perjanjian ini terdiri dari 17 pasal. Dari 17 pasal tersebit terdapat 3 pasal utama.

Isi pasal utama yang pertama adalah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto. Luas wilayah yang dimiliki Indonesia meliputi Jawa, Madura, dan Sumatera. Selain itu, Belanda harus meninggalkan Indonesia selambat-lambatnya 1 Januari 1949.

Isi pasal utama yang kedua adalah menyepakati pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Anggota dari RIS ini terdiri dari RI, Timur Besar, serta Kalimantan sebelum 1 Januari 1949. Pembentukan RIS ini harus disepakati kedua pihak baik Belanda maupun Indonesia.

Baca Juga  Urutan Pangkat TNI Lengkap, Darat, Laut Maupun Udara

Terakhir, pasal utama yang ketiga masih berkaitan dengan pembentukan Republik Indonesia Serikat. Isi pasal ketiga tersebut adalah RIS dan Belanda sepakat untuk membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketua Uni Indonesia-Belanda.

Itulah jalannya perundingan yang diadakan di Linggarjati. Tentunya perjanjian ini menghasilkan berbagai dampak terhadap rakyat Indonesia. Dampak positifnya, Indonesia akhirnya diakui kedaulatannya oleh Belanda dan tentunya dipandang semakin kuat di mata dunia. Walaupun demikian Indonesia hanya memiliki luas wilayah yang cukup kecil.

Setelah perundingan ini, pemerintah Indonesia semakin berusaha untuk melakukan jalan diplomasi-diplomasi lainnya untuk mencapai kemerdekaan sepenuhnya bagi Indonesia. Oleh karena itu, perundingan ini bukan jalan terakhir untuk mempertahankan dan menyatukan wilayah Indonesia secara utuh.

Aldy Amrillah

Aldy Amrillah

Halo, Perkenalkan nama saya Aldy Amrillah biasa dipanggil Aldy, Saya merupakan penulis artikel yang berasal dari Kota Hujan.Saya memiliki hobi bermain game online, membaca artikel dan menonton berita dan semoga saja artikel yang saya tulis untuk Kalian dapat bermanfaat yah, selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *