Siklus Hidrologi: Pengertian, Sejarah, dan Tahapannya

Siklus Hidrologi – Banyak hal menarik yang dapat dibahas mengenai air. Dalam hal ini hidrologi adalah istilah yang banyak berkaitan dengan air dan siklusnya. Berkaitan dengan itu, tentu sangat menarik membahas mengenai siklus hidrologi mengingat air sendiri telah sangat dekat dengan manusia sebagai sumber kehidupan.

Ketika ilmu alam telah semakin berkembang, manusia tertarik mengamati sekelilingnya untuk dijadikan wawasan baru, termasuk juga tentang hidrologi. Nah, berkaitan dengan itu, berikut ulasan tentang siklus tersebut yang akan dibahas kali ini.

Pengertian Siklus Hidrologi

Pengertian Siklus Hidrologi

Kata hidrologi, sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan alam. Kata hidro secara harfiah berarti air, dan logi berasal dari bahasa yunani logos yang berrati ilmu. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang air dan pergerakan atau pola siklusnya.

Siklus hidrologi atau yang biasa disebut juga siklus air adalah suatu siklus yang terjadi di lingkungan perairan. Pengetahuan ini membuka fakta baru bahwa sebenarnya ketersediaan air di alam relatif sama. Hanya saja ,dapat terlihat berbeda karena waktu ketersediaan dan kualitasnya.

Pada dasarnya, air mengalami proses perubahan bentuk dan perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Proses ini terjadi secara ilmiah. Dalam pengamatannya, proses ini membentuk siklus sehingga dikatakan siklus air.

Baca Juga  Efek Rumah Kaca: Pengertian, Penyebab dan Dampaknya

Dalam hal ini, Siklus hidrologi adalah cabang ilmu dari siklus biogeokimia. Ada beberapa aspek yang dipelajari dalam hidrologi termasuk tentang kualitas air, kelayakan konsumsi, hingga distribusi air di bumi.

Adanya siklus ini tidak hanya mempertahankan ketersediaan air, melainkan juga menjaga intensitas hujan dan menstabilkan kondisi iklim dan cuaca di bumi agar tetap teratur. Ilmu hidrologi masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah beberapa list di bawah ini.

* Geohidrologi, yang membahas air dalam tanah.

* Hidrometeorologi, yang mempelajari air yang berwujud gas di udara.

* Potamologi, yang membahas tentang aliran air khusunya pada permukaan.

* Limnologi, yang membahas tentang permukaan air yang tenang seperti danau.

* Kriologi, yang mempelajari air dalam wujud padat seperti salju dan es.

Sejarah Ilmu Hidrologi

Sejarah Ilmu Hidrologi

Awal mula dicetuskannya ilmu tentang air dimulai ketika seorang filsuf Yunani yang bernama Thales mengungkapkan teorinya pada 3000 tahun yang lalu. Thales berpendapat bahwa, sumber dari segala sesuatu adalah air.

Teori evolusi menyatakan bahwa, air adalah sumber kehidupan. Beberapa ilmuan yang memperkuat teori ini menyatakan, asal mula beradanya makhluk hidup pertama di bumi berasal dari perairan.

Setelah perairan terbentuk, bumi lalu berkembang membentuk atmosfer hingga dapat dihuni oleh makhluk hidup lain yang lebih kompleks. Hal ini sangat menarik, mengingat bahwa sebagian besar permukaan bumi tertutupi oleh air.

Ilmu tentang air ini terus mengalami perkembangan. Pada sekitar tahun 1500 masehi, De Vinci menyatakan bahwa air sungai berasal dari air hujan yang turun ke bumi. Teori ini selanjutnya diperkuat oleh Edme Marriote pada 1670 yang merilis data mengenai curah hujan.

Tidak sampai di situ, perkembangan hidrologi diperkuat kembali oleh seorang ilmuwan John Dalton pada 1750. Kemudian pada tahun 1856, henry Darcy mencetuskan teori aliran air pada media berpori.

Perkembangan hidrologi terus berlanjut dengan meluaskan fokus penelitian namun tetap dalam lingkup air, seperti halnya ilmu hubungan antar jumlah air sungai dengan curah hujan. Daniel mead mengeluarkan gagasan baru tentang hidrologi pada 1904, yang kemudian dilanjutkan teori-teori baru lagi.

Peta Jumlah Air di Bumi

Peta Jumlah Air di Bumi

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, keberadaan jumlah air di bumi sebenarnya relatif sama. Namun karena beberapa faktor alam seperti suhu, intensitas cahaya, maupun kelembaban mempengaruhi keberadaan air di suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Saat ini jumlah air di bumi dapat diketahui melalui peta persebarannya. Adanya peta ini membuat peneliti menjadi lebih mudah memperkirakan keberadaan stok air di bumi. Mengingat manfaatnya bagi kehidupan, seakan sumber daya air tidak akan pernah habis. Namun benarkah demikian?

Dilansir dari sebuah sumber, data dan perhitungan dari penelitian yang telah dilakukan dapat memprediksi jumah air di bumi yang dapat dimanfaatkan.

Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa perkiraan sumber daya air di bumi yang dapat diperbaharui adalah kurang dari 6% dari jumlah total yang tersedia.

Tom gleeson dari universitas victoria selaku tim penelitian berhasil menerbitkan hasil penelitiannya di jurnal nature geoscience. Dalam jurnal tersebut, Ia menyatakan bahwa kadar air di akuifer mengalami banyak pengurangan.

Menurutnya, hal ini dapat terjadi karena sebagian besar penduduk bumi menggunakan air tanah terlalu cepat. Penggunaan ini lebih cepat dari kemampuan alam memperbaharui air itu sendiri.

Dalam jurnal tersebut, tom memperkirakan jumlah air tanah hampir 23 juta kilometer kubik. Sedangkan 0,35 juta kubik diantaranya berusia kurang dari 50 tahun.

Baca Juga  Sampah Plastik: Pengertian, Bahaya dan Cara Menanggulanginya

Tom gleeson juga menyatakan bahwa keberadaan air di lapisan bumi mempengaruhi kemampuan perbaikannya. Air yang berada lebih dekat permukaan bumi dinilai dapat lebih cepat diperbarui dari pada yang terletak di perut bumi.

Fakta lain, air yang berada di dekat permukaan cenderung lebih rentan terkontaminasi dan perubahan iklim. Namun di sisi lain, air di sini dinilai mampu mengatasi cuaca yang ekstrim.

Sedangkan air yang ditemukan jauh di perut bumi sering dimanfaatkan untuk keperluan pertanian dan industri. Air ini juga dinilai kemungkinan mengandung arsenik dan uranium dan seringkali lebih asin dari pada air laut

Informasi lebih lanjut terkait siklus air adalah, keberadaan air tanah lebih mudah ditemukan di lingkungan yang mendukung keberadaannya. Katakan saja seperti kawasan tropis dan pegunungan.

Tak hanya itu, ditemukan juga terkait cadangan besar air yang ada di bumi. Beberapa cadangan besar tersebut terdapat di Amazon Basin, Kongo, Indonesia, dan sepanjang perbatasan barat Amerika Utara dan Selatan.

Dari penjabaran data diatas, disimpulkan bahwa ketersediaan air konsumsi dapat mengalami kelangkaan jika penggunaannya tidak terkontrol. Diharapkan pengguna air dapat lebih bertanggungjawab dengan adanya fakta bahwa air dapat habis jika digunakan secara berlebihan.

Tahap Dalam Siklus Hidrologi

Tahap Dalam Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi adalah suatu proses perpindahan air dari satu tempat ke tempat lain dengan wujud yang kemungkinan berbeda. Siklus ini terjadi secara terus menerus. Adanya proses ini dalam siklus air menjadikan ketersediaan air tetap stabil di bumi.

Ketersediaan yang stabil bukan berarti keberadaan air di suatu daerah tetap stagnan dan tidak berkurang maupun bertambah. Hal ini dapat dibenarkan mengingat didapati fakta bahwa beberapa tempat dapat mengalami kekeringan saat musim kemarau panjang, maupun banjir saat musim penghujan tiba.

Air tidak terbagi merata di permukaan bumi. Beberapa sumber menyatakan bahwa keberadaan air di permukaan bumi tersebar sebanyak 97% terdapat di lautan. Selain itu, 2.1% berbentuk gunung es di kutub bumi atau gletser permanen.

Sisanya merupakan air segar dalam bentuk uap air di atmosfer, air bumi, air tanah, atau air permukaan di daratan. Keberadaannya yang demikian disebabkan oleh siklus air dalam suatu periode.

Suatu proses siklus hidrologi memiliki tahapan di dalamnya. Tahapan di dalam siklus air tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

* Evaporasi

Dapat dikatakan bahwa evaporasi adalah tahap awal dalam siklus air ini. Evaporasi adalah keadaan dimana air yang berwujud cair dapat berubah menjadi air berwujud gas. Berubahnya bentuk ini memungkinkan air dapat naik ke atas atmosfer bumi.

Proses yang dapat dikatakan sebagai penguapan ini dapat terjadi pada air yang tertampung di badan air seperti danau, sungai, laut, sawah, bendungan, atau waduk. Menurut lutgens dan tarbuck, sekitar 85% uap air di atmosfer berasal dari penguapan di laut bebas dan sisanya dari reservoir.

Faktor utama pendorong terjadinya proses evaporasi adalah energi panas yang dihasilkan oleh matahari. Penguapan dari permukaan sangat tergantung pada suhu air dan suhu udara di atasnya.

Dalam hal ini, suhu air mempengaruhi laju penguapan air. Sedangkan suhu udara di atasnya mempengaruhi kecepatan pergerakan uap air di atmosfer.

Baca Juga  10 Rasi Bintang Bintang Terkenal: Mitologi dan Lokasinya

* Transpirasi

Transpirasi merupakan tahapan dalam siklus air yang juga berarti penguapan. Namun, ini berbeda dengan tahapan sebelum nya. Bedanya adalah, tahap transpirasi dialami oleh tumbuhan. Lebih jelasnya, transpirasi merupakan penguapan air yang berlangsung di jaringan tumbuhan.

Jaringan tumbuhan yang di maksud adalah jaringan tumbuhan yang tertanam di atas permukaan bumi. Jadi tidak berlaku pada tumbuhan yang mungkin berhabitat di dalam perairan lautan.

Proses transpirasi melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel pada tumbuhan. Perhitungan berdasarkan hasil perkiraan, transpirasi terbesar dapat dilakukan oleh stomata yaitu sekitar 80-90% dari total transpirasi.

Bagian organ kutikula menyumbang produksi uap air sekitar 20% dari total transpirasi. Sedangkan lentisel memberikan kontribusi sebesar 0.1%. Beberapa faktor yang mempengaruhi transpirasi adalah suhu, pergerakan angin, kelembaban udara, tanah, dan jenis tanaman.

Secara ilmiah, transpirasi adalah proses pernapasan yang terjadi pada makhluk hidup. Sehingga, fakta lain didapatkan bahwa yang berperan pada tahap transpirasi tak hanya tumbuhan, namun juga hewan dan manusia.

Tumbuhan dapat melakukan transpirasi dengan proses yang diawali penyerapan air dalam tanah. Selanjutnya, air diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh xilem. Pemanfaatan air pada tumbuhan adalah bahan fotosintesis. Hasil akhirnya adalah uap air yang dikeluarkan melalui stomata.

Jika dilihat dari prosesnya, antara hewan dan manusia memiliki proses transpirasi yang mirip. Meskipun didukung dengan organ pernapasan yang berbeda. Penguapan dapat terjadi karena hewan dan manusia melakukan pernapasan yang menghasilkan uap air dari proses metabolismenya.

Sama dengan evaporasi, transpirasi juga mengubah air yang berwujud cair dalam jaringan makhluk hidup menjadi uap air dan membawanya ke atas menuju atmosfer.

Namun demikian, pada umumnya, jumlah kadar air yang menguap pada proses transpirasi lebih sedikit dibandingkan dengan uap air yang dihasilkan melalui proses evaporasi.

* Evapotranspirasi

Yang dimaksud dengan evapotranspirasi merupakan proses menguapnya air di seluruh permukaan bumi. Baik yang terjadi pada badan air dan tanah, maupun pada jaringan makhluk hidup. Sesuai dengan namanya, evapotranspirasi adalah gabungan dari tahapan evaporasi dan transpirasi.

Dibandingkan dengan tahap lainnya, evapotranspirasi dinilai paling mempengaruhi siklus hidrologi. Faktor yang menyebabkan evapotranspirasi antara lain adalah laju bertambah dengan meningkatnya suhu, radiasi matahari, dan pergerakan angin.

Selain itu, ada juga faktor yang menyebabkan lajunya berkurang. Dalam hal ini, meningkatnya kelembaban menjadi faktor utama yang berperan dalam berkurangnya laju terjadinya evapotranspirasi.

* Sublimasi

Proses perubahan es yang terjadi di daerah kutub atau di kawasan puncak lah yang disebut dengan sublimasi. Hanya saja, proses ini tanpa melalui fase cair terlebih dahulu. Sublimasi tentu saja ikut andil terhadap kadar uap air yang diangkut ke atmosfer meski dalam jumlah yang sedikit.

Perannya dalam menyumbang kadar uap air ke atmosfer melalui siklus air yang panjang. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan penguapan, proses sublimasi dikatakan berjalan sangat lambat. Tahapan sublimasi umumnya terjadi di daerah kutub maupun wilayah yang banyak terdapat lapisan es.

* Kondensasi

Proses kondensasi merupakan tahapan selanjutnya setelah uap air yang dihasilkan dari proses penguapan terkumpul. Dalam hal ini, hasil dari proses evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi, dan sublimasi naik hingga mencapai titik ketinggian tertentu.

Sampai pada titik tersebut, uap itu akan berubah menjadi partikel es berukuran sangat kecil. Perubahan wujud uap air menjadi es tersebut terjadi karena pengaruh suhu udara yang sangat rendah di titik ketinggian yang dimaksud.

Partikel es yang terbentuk akan saling mendekati dan bersatu satu sama lain sehingga membentuk awan. Semakin banyak partikel es yang bergabung, awan yang terbentuk akan semakin tebal dan hitam.

* Adveksi

Peristiwa adveksi merupakan tahapan selanjutnya setelah uap air membentuk awan secara kondensasi. Pada tahapan adveksi, awan yang terbentuk akan berpindah menuju lokasi lain karena pengaruh angin dan perbedaan tekanan udara. Secara ringkas, adveksi adalah proses berpindahnya awan.

Perpindahan awan dalam proses adveksi terjadi dalam satu titik horizontal. Melalui proses ini, awan akan menyebar, termasuk berpindah dari atmosfer di atas laut ke atmosfer yang berada di atas daratan.

Faktor utama penginisiasi tahapan adveksi adalah pergerakan angin dan tekanan udara. Pada umumnya proses adveksi terjadi dalam siklus air panjang.

* Presipitasi

Yang disebut dengan presipitasi adalah proses mencairnya awan yang disebabkan suhu tinggi. Pada proses inilah hujan terjadi. Butiran-butiran air jatuh dan membasahi permukaan bumi. Hal ini merupakan cara utama air yang menguap kembali lagi ke bumi.

Apabila suhu udara di sekitar awan terlalu rendah hingga berkisar kurang dari 0 derajat celcius, presipitasi memungkinkan terjadinya hujan salju. Awan yang mengandung banyak air akan turun ke biosfer dalam bentuk butiran salju tipis seperti yang dapat ditemui di daerah beriklim sub tropis.

* Run off

Dalam bahasa indonesia, run off dikenal dengan istilah limpasan. Run off atau limpasan adalah suatu proses pergerakan air dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah di permukaan bumi. Misalnya, peristiwa hujan yang jatuh ke permukaan bumi dan terjadi di wilayah dataran tinggi.

Peristiwa tersebut dapat memicu adanya gerak air dari dataran tinggi ke daratan lebih rendah. Ini yang disebut air mengalir. Run off secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses dari mengalirnya air.

Pergerakan air tersebut misalnya terjadi melalui saluran-saluran seperti saluran got, sungai, danau, muara, laut, hingga samudra. Dalam proses ini, air yang telah melalui siklusnya akan kembali menuju lapisan hidrosfer.

Tahap run off membantu air kembali ke hidrosfer. Peristiwa ini dapat berdampak menimbulkan erosi bila kuantitas dan lajunya tinggi.

Baca Juga  Tata Surya: Pengertian, Teori dan 6 Susunannya

* Infiltrasi

Air hujan dari awan yang mencair tentu tidak semua mengalir di permukaan bumi. Dalam hal ini, ada sebagian air yang akan masuk dan bergerak dengan merembes melalui pori-pori tanah. Inilah yang disebut dengan proses infiltrasi.

Singkatnya, infiltrasi adalah tahapan dari siklus air dimana air hujan atau hasil presipitasi masuk ke dalam pori-pori tanah dan menjadi air tanah. Dapat dikatakan peristiwa ini merupakan proses absorbsi.

Kinerja tahap infiltrasi dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Adanya gaya ini membantu mengisi kelembaban tanah yang akan membentuk air tanah. Namun demikian, pada akhirnya secara berkala air ini juga akan kembali ke laut meski lebih lambat.

Setelah melalui proses run off maupun infiltrasi, air yang telah mengalami siklus tersebut akan kembali berkumpul di lautan. Infiltrasi merupakan tahapan terakhir siklus air dan selanjutnya memulai tahapan baru lagi mulai dengan evaporasi dan seterusnya.

Beberapa Jenis Siklus Air

siklus hidrologi adalah

Berdasarkan tahapan siklus air yang telah dijelaskan, beberapa diantaranya diungkapkan terjadi pada siklus hidrologi panjang. Sebetulnya tak hanya siklus panjang saja yang terjai dalam proses hidrologi. Ada tiga proses utama yang dapat terjadi dalam siklus ini. Tiga jenis tersebut adalah sebagai berikut.

1. Siklus pendek

Siklus hidrologi pendek umumnya terjadi di lautan. Meskipun terbilang pendek, siklus hidrologi ini memberi kontribusi yang cukup banyak menyumbang uap air di atmosfer.

Proses terbentuknya uap air dalam siklus ini pertama kalinya diinisiasi oleh peristiwa evaporasi di lautan. Faktor pendukung utamanya adalah suhu air dan suhu udara sekitarnya. Kondisi suhu yang dimaksud, dipengaruhi langsung oleh kemampuan energi panas yang dihasilkan dari radiasi matahari.

Selanjutnya, setelah evaporasi akan terjadi tahap kondensasi. Pada tahap ini terjadi penurunan suhu karena perbedaan ketinggian. Pengaruh perbedaan ketinggian terhadap penurunan suhu adalah, setiap naik 100 meter, suhu udara akan turun 0.5 derajat celcius.

Dalam siklus air pendek tidak terdapat tahapan adveksi di dalamnya. Setelah kondensasi terjadi, tahap selanjutnya adalah presipitasi, yaitu turunnya hujan ke permukaan laut. Begitu selanjutnya disambung kembali dengan tahap evaporasi sebagai awalan untuk siklus serupa kembali.

2. Siklus Sedang

Hampir mendekati siklus air pendek, siklus air sedang ini umumnya terjadi di wilayah daratan yang dekat dengan lautan. Karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa proses penguapan bisa terjadi dari hasil tahapan evaporasi, transpirasi, maupun evapotranspirasi.

Keberagaman ekosistem yang terdapat di wilayah tersebut, memungkinkan uap air yang dihasilkan didapat dari beberapa sumber. Hasil uap air dari lautan yang mendekati daratan bergabung dengan uap air yang dihasilkan dari reservoir lain dan makhluk hidup. Tahap selanjutnya disini adalah kondensasi.

Di samping itu, berbeda dengan siklus pendek, dalam jenis siklus ini terdapat tahapan adveksi. Awan yang terkumpul dalam proses kondensasi akan terbawa angin hingga ke daratan.

Hal ini yang menyebabkan proses presipitasi terjadi di daratan. Kondisi dimana hujan yang turun jatuh pada permukaan daratan disebabkan oleh awan hasil kondensasi selanjutnya terbawa angin.

Karena turunnya di daratan, air hujan mengalami run off dan infiltrasi dalam siklusnya. Jadi, sebagian, dialirkan melalui saluran maupun sungai, namun ada juga yang langsung menuju perairan laut.

Baca Juga  Perubahan Sosial: Pengertian, Teori, dan Bentuknya

3. Siklus Panjang

Siklus air yang panjang merupakan siklus yang lumayan memberi kontribusi kadar uap air dalam atmosfer yang cukup besar. Siklus ini umumnya terjadi di wilayah pegunungan. Namun, perlu diketahui bahwa evaporasi terjadinya tetap di lautan.

Selanjutnya, sebelum mengalami kondensasi, uap air hasil evaporasi mengalami sublimasi terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan saat kondensasi terjadi, awan yang terbentuk mengandung kristal es.

Pada siklus hidrologi panjang juga terjadi proses adveksi. Dalam hal ini, kristal uap air yang terbentuk setelah tahap kondensasi bergerak menuju daratan. Peristiwa ini umumnya disebabkan oleh tekanan angin di sekitarnya.

Seperti pada siklus yang lain, presipitasi terjadi juga terjadi pada siklus air panjang. Hanya saja, istimewanya, peristiwa presipitasi pada siklus ini membentuk hujan salju yang kemudian akan terakumulasi menjadi gletser.

Radiasi matahari kemudian mengambil peranannya kembali. Hal tersebut memicu gletser di daratan mencair. Air yang dihasilkan selanjutnya mengalir dan membentuk aliran air sungai. Karena adanya gaya gravitasi, sebagian air terabsorbsi oleh tanah sekitar sungai, dan sebagian lagi bergerak menuju laut lagi.

Manfaat Siklus Air Bagi Kehidupan

Manfaat Siklus Air Bagi Kehidupan

Siklus air di bumi ini ternyata memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Selain mendaur kualitas dan intensitas air di bumi, berikut manfaat siklus air bagi kehidupan.

1. Wash Biosfer

Mulai dari proses penguapan hingga infiltrasi, setiap tahapnya air membantu dalam membersihkan kondisi biosfer bumi. Biosfer adalah lapisan bumi yang menjadi tempat hidup atau habitat makhluk hidup. Pada lapisan ini, kehidupan makhluk hidup didukung oleh komponen abiotik di dalamnya.

Air adalah komponen abiotik pendukung utama pada kelangsungan kehidupan makhluk hidup di bumi. Proses hidrologi dalam hal ini memberi manfaat sebagai pembersih atmosfer yang menaunginya.

Pada saat terjadi penguapan, air membantu mengurangi kelembaban akibat debu dan antioksidan lainnya di udara. Setelah tahapan hidrologi mencapai tahap infiltrasi, air hujan yang kembali turun ke bumi dapat membersihkan udara di atmosfer bumi.

Hal ini membuat udara terbebas dari debu dan polusi. Keuntungan lain adalah membuat penghuni biosfer bebas bernafas dengan udara yang bersih dan sehat.

2. Water Move Position

Menurut sebuah teori, keberadaan seluruh air di bumi kondisinya adalah statis. Namun, karena faktor panas matahari, panas bumi, dan perbedaan ketinggian, maka air pun bergerak dan membentuk siklus hidrologi.

Proses ini membuat kadar air di bumi tetap stabil, meski di beberapa daerah terkadang masih kekurangan suplai air karena faktor alam. Meski demikian, hal tersebut merupakan kondisi alam yang memang harus diadaptasikan.

Adanya daur air secara langsung akan memutar atau memindahkan air dari berbagai tempat. Air yang awalnya di daratan dan lautan akan berpindah ke udara, lalu turun kembali ke bumi. Setiap tahapan dalam proses tersebut memiliki manfaat berbeda.

3. Resource life

Air adalah sumber kehidupan. Itu adalah teori lama yang dicetuskan oleh seorang filsuf dan faktanya masih terasa hingga saat ini. Sebagian besar penopang kebutuhan adalah air. Mulai dari untuk dikonsumsi sebagai minuman, maupun kebutuhan hidup lainnya.

Ada banyak sekali manfaat air yang dapat mendukung kehidupan di bumi. Tak hanya manusia, makhluk hidup lain seperti tumbuhan dan hewan juga membutuhkannya. Tumbuhan membutuhkan air sebagai bahan fotosintesis.

Selanjutnya melalui siklus air, proses transpirasi terjadi. Pada tahap ini tumbuhan juga mengeluarkan oksigen sebagai suplay kebutuhan pernafasan manusia dan hewan. Sulit dibayangkan bila tak ada air dalam kehidupan sehingga tumbuhan tidak dapat berfotosintesis

Baca Juga  Pencemaran Tanah: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

4. Sumber energi

Air yang ada di bumi dapat dijadikan sebagai sumber energi. Hal ini tak lain didukung oleh adanya siklus air. Siklus air memungkinkan air hujan jatuh dengan bantuan gaya gravitasi hingga air dapat menuju tempat yang lebih rendah.

Semakin tinggi sumber air yang menuju lokasi rendah, maka kekuatannya semakin besar. Kemampuan air yang demikian telah banyak dimanfaatkan manusia sebagai sumber energi.

Salah satu contohnya adalah penggunaan energi air untuk membangkitkan energi listrik. Terobosan teknik ini membantu pengurangan sumber energi lain yang sifatnya lebih sulit diperbaharui daripada air.

5. Wisata

Secara sadar atau tidak, kondisi bentang alam juga dipengaruhi oleh siklus air. Hal ini ternyata dinilai estetik oleh penikmat wisata.

Adanya siklus air memberikan efek embun yang sejuk di daerah pegunungan. Tak hanya itu, air terjun juga merupakan keindahan alam yang bisa didapat karena adanya siklus air. Pemandangan seperti ini dapat dijadikan objek wisata.

Selain memberikan efek segar bagi pandangan, objek wisata dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat yang pandai memanfaatkannya. Tentu saja ini akan sangat membantu kehidupan manusia di bumi.

Aldy Amrillah

Aldy Amrillah

Halo, Perkenalkan nama saya Aldy Amrillah biasa dipanggil Aldy, Saya merupakan penulis artikel yang berasal dari Kota Hujan.Saya memiliki hobi bermain game online, membaca artikel dan menonton berita dan semoga saja artikel yang saya tulis untuk Kalian dapat bermanfaat yah, selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *