Objektif: Ini Contoh dan 2 Perbedaan Dengan Subjektif

Objektif Adalah – Apa yang teman-teman pahami mengenai objektif? Seringkali kita menggunakan kata tersebut, namun belum mengetahui maknanya secara tepat. Bahkan tak jarang kita pun menuliskannya dengan cara yang salah, yaitu menggunakan tulisan obyektif. Sebelum kita tahu apa pengertian objektif, ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu mana penulisan yang benar; objektif atau obyektif?

Menurut web Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dapat kita pastikan bahwa kata yang baku yaitu objektif. Arti objektif adalah dalam KBBI yaitu mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi.

Lawan kata dari objektif adalah tak lain adalah subjektif. Karena merupakan antonim dari objektif, maka bisa diartikan bahwa subjektif merupakan sebuah kondisi yang mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya.

Objektif Adalah Kondisi yang Tak Terkait, Ini Bedanya Dengan Subjektif

objektifAgar kita semakin paham apa perbedaan antara arti subjektif dan objektif, yuk kita telaah lebih lanjut 3 hal berikut ini.

1. Ciri yang Membedakan

Dari pengertian objektif dan subjetif yang dijabarkan dalam KBBI sebenarnya sudah cukup jelas bahwa ciri yang membedakan antara objektif dan subjektif adalah terletak pada adanya pengaruh pribadi atau tidak. Pandangan yang objektif adalah sebuah pandangan yang menyeluruh dan didukung dengan adanya fakta serta data. Bukan sekedar katanya, atau terpengaruh dari perasaan pribadi seseorang.

Baca Juga  Integritas: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Manfaatnya

Sebuah pandangan atau pendapat dikatakan objektif jika mewakili banyak orang, bukan sekedar perwakilan dari satu suara. Jika ada sepuluh orang di dalam sebuah kelompok, ada sembilan orang memiliki satu suara dan seorang lainnya memiliki suara yang berbeda. Bisa dikatakan objektif jika penilaian berdasarkan suara yang berasal dari sembilan orang tersebut.

2. Cara Penilaian

Dalam menentukan apakah sebuah pikiran atau pandangan objektif atau subjektif adalah maka dibutuhkan adanya fakta dan data. Semakin banyak fakta dan data yang dikumpulkan, maka akan semakin besar nilai objektivitasnya. Namun semakin mengandalkan rasa dan selera pribadi tertentu, maka subjektivitas akan semakin besar.

Contoh Kasus Objektif dan Subjektif

pengertian objektif

Agar kita lebih memahami perbedaan antara arti subjektif dan objektif, mari kita belajar dari contoh-contoh berikut ini:

– Kasus Pertama

Kasus pertama, ada dua orang siswa di kelas yang diharapkan mewakili sekolah untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris. Siswa pertama direkomendasikan oleh separuh kelas karena dia adalah anak guru bahasa Inggris. Meski nilai-nilai di sekolah tak cukup baik, namun siswa ini dianggap mampu mengikuti perlombaan dengan baik karena dia anak guru.

Sementara siswa kedua direkomendasikan oleh sebagian kelas lainnya karena telah terbukti nilai-nilainya selama di sekolah jauh lebih baik dari siswa pertama. Siswa kedua juga sudah pernah mengikuti perlombaan-perlombaan lain sebelumnya.

Guru Bahasa Inggris di sekolah tersebut pada akhirnya memutuskan mengirim siswa kedua ke perlombaan karena melihat fakta bahwa prestasi siswa kedua jauh lebih baik dari siswa pertama. Bahkan meskipun siswa pertama adalah anak kandungnya sendiri.

Di sini kita bisa simpulkan bahwasanya guru tersebut memiliki pandangan yang objektif dan tidak mengikuti perasaan atau pengaruh pribadi.

Baca Juga  Bagian Bagian Mikroskop: Pengertian, Penemu, dan Fungsinya

– Kasus Kedua

Contoh kasus kedua, di sebuah pameran lukisan tergantung belasan karya pelukis ternama di dinding. Setiap lukisan memiliki keunikannya masing-masing.

Bagi seorang perempuan yang menatap sebuah lukisan naturalis bertema cinta di dinding ruang pameran, lukisan tersebut merupakan karya terbaik yang dipamerkan saat itu. Perempuan itu berpendapat demikian karena dia adalah pecinta lukisan naturalis, sementara sebagian besar lukisan yang dipamerkan bertema realis.

Di satu sisi, ada seorang pria yang berdiri terpaku menatap sebuah lukisan realis bertemakan tokoh penting di sebuah zaman. Bagi pria tersebut, lukisan itu yang terbaik karena menampilkan gambar yang sangat hidup dan terkesan nyata.

Pada kasus kedua, kita bisa melihat sebuah contoh mengenai pandangan subjektif. Tentang menilai sebuah karya seni, selera dan pengaruh pribadi sangat mendominasi. Kita tidak bisa memaksakan pandangan dan pendapat seseorang terhadap karya seni.

Dari 2 hal di atas, bisa disimpulkan bahwa baik pandangan objektif maupun subjektif sama-sama diperlukan. Namun tentu saja harus melihat konteks dan kebutuhan. Pada hal yang mempengaruhi hajat orang banyak, maka objektivitas diperlukan. Kita tidak bisa menyandarkan sebuah keputusan bersama yang diambil berdasarkan dari selera pribadi, atau hasil mereka-reka.

Dalam keputusan yang menyangkut kehidupan banyak orang, sebuah pendapat dan pandangan yang berdasarkan fakta dan data akan jauh lebih bisa diterima dengan memuaskan oleh banyak pihak, dibandingkan pendapat yang hanya berdasarkan selera atau asumsi pribadi.

Apakah Pandangan Objektif  Berhubungan Dengan Rasa Keadilan?

subjektif adalah

Jika kini teman-teman telah memahami pengertian objektif adalah maka saatnya untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan objektif adalah biasanya dihubungkan dengan rasa keadilan. Orang yang bisa berpikir dan bersikap objektif adalah orang-orang yang memiliki nilai keadilan yang tinggi.

Baca Juga  Pengertian Budaya: Unsur-unsur, Fungsi dan Jenisnya

Sementara orang-orang yang sering memberikan penilaian secara subjektif adalah dianggap sebagai orang-orang yang kurang memiliki nilai keadilan, dan biasanya cenderung dikatakan sebagai sosok yang egois.

Meskipun begitu kita tidak bisa memaksakan sudut pandang orang terhadap sesuatu hal. Sudut pandang seseorang bisa jadi objektif dan subjektif adalah terbentuk karena pengalaman kehidupan dan juga tingkat kedewasaan. Oleh karenanya bukan hal yang bijak pula menghakimi orang hanya karena ia belum mampu bersikap objektif.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, orang yang tadinya menilai sesuatu hanya berdasarkan asumsi dan selera bisa berkembang menjadi pribadi yang mampu memberikan penilaian objektif berdasarkan fakta dan juga data.

Semoga kita dimudahkan untuk bisa selalu memberikan penilaian yang objektif terhadap hal-hal yang berkembang di masyarakat sehingga nilai-nilai keadilan bisa lebih tumbuh dan berkembang.

Marita Ningtyas

Marita Ningtyas

A Writerpreneur, tinggal di kota Lunpia. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Selamat membaca.

One thought on “Objektif: Ini Contoh dan 2 Perbedaan Dengan Subjektif

  • Avatar
    29-07-2020 at 7:28 am
    Permalink

    Penyampaiannya jelas👍

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *