Konservasi: Pengertian, Contoh dan Manfaatnya

Konservasi – Menjaga alam merupakan tugas setiap manusia. Alam memberikan banyak hal bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya, seperti air, mineral, tanaman dan lain sebagainya. Dalam hal ini, konservasi adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam menjaga kelestarian alam.

Lalu, apa itu konservasi? Istilah ini banyak dibicarakan sebagai wacana publik dalam mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup. Untuk mengetahui tentangnya lebih dalam, berikut ini uraian mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan konservasi

Mengenal Konservasi

Konservasi

Konservasi merupakan salah satu upaya untuk melestarikan lingkungan. Pelestarian lingkungan ini dilakukan dengan tetap memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan. Manfaat tersebut didapat dengan mempertahankan setiap komponen lingkungan dengan baik.

Konservasi dilakukan untuk melestarikan alam sebagai salah satu langkah perlindungan. Dengan konservasi, spesies tertentu bisa dilestarikan sesuai dengan habitatnya.

Konservasi secara harfiah berasal dari kata conversation, yakni the preservation, management ancare of natural and cultural resource. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini berarti pelestarian, pengelolaan, perawatan sumber daya alam dan kultural atau budaya.

Pada umumnya, terdapat dua jenis sistem konservasi yang sudah digunakan oleh banyak lembaga konservasi di berbagai negara. Jenis-jenis konservasi ini digunakan untuk melindungi berbagai jenis spesies, baik tumbuhan, satwa liar atau ekosistem tertentu.

Dalam hal ini, kedua jenis konservasi ini adalah konservasi in situ dan konservasi ex situ. Kedua jenis konservasi ini memiliki pengertian masing-masing dengan fungsi yang berbeda pula.

Pengertian Konservasi Menurut Pada Ahli Adalah Sebagai Berikut

Mengenal Konservasi

Para ahli juga banyak yang mengungkapkan pendapatnya tentang konservasi. Pengertian konservasi menurut para ahli diantaranya adalah sebagai berikut.

* Allaby

Allaby mengatakan bahwa arti konservasi merupakan pengelolaan biosfer yang dilakukan secara aktif untuk menjamin kelangsungan hidup dari keanekaragaman spesies maksimum. Konsevasi berguna sebagai langkah pemeliharaan keragaman genetic dari sebuah spesies.

* UNEP

United Nations Environment Programme atau UNEP mengungkapkan, pengertian konservasi yaitu konsep pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan konservasi, lingkungan bisa memberikan manfaat yang besar dan berkelanjutan. Potensinya untuk generasi yang akan datang pun akan tetap terjaga. Agar dapat berhasil, maka konservasi spesies dan proses biologisnya harus dilakukan bersamaan dengan konservasi sumber daya biotik.

* Menurut Undang-Undang

Sementara itu, UU nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistem, mengungkapkan bahwa konservasi sumber daya hayati merupakan pengelolaan terhadap sumber daya alam yang pemanfaatanya dilakukan dengan bijaksana sehingga kehidupan spesies tetap terjaga.

Untuk menjamin kesinambungan tersebut, maka kualitas keanekaragaman dan pemeliharaan nilainya harus ditingkatkan.

* Munro

Munro mengatakan bahwa konservasi artinya adalah pengelolaan sumber daya yang memastikan proses berkelanjutan tersebut sepenuhnya berasal dari sumber daya alam. Kegiatan konservasi sendiri berpusat pada terjaganya sumber daya.

Baca Juga  Pengertian Ekosistem: Komponen dan Macam-macamnya

* Ian Campbell

Seain beberapa definisi diatas, Ian Campbell mendefinisikan konservasi menjadi tiga makna. Ketiganya adalah perservasi atau pelestarian sumber daya alam, pemanfaatan dengan penggunaan nalar dan penggunaan sumber daya alam dengan bijak.

Dari beberapa ahli yang mengungkapkan pendapat tentang istilah ini, dapat disimpulkan bahwa konservasi adalah upaya untuk menjaga, memelihara dan melestarikan keragaman spesies yang kemudian dimanfaatkan dengan bijaksana tanpa mengganggu fungsi spesies pada ekosistemnya.

Konservasi dan Sumber Daya Terbarukan

arti konservasi
Pelestarian sumber daya terbarukan penting dilakukan untuk memastikan terjaganya lingkungan dan keanekaragaman spesies. Contoh sumber daya terbarukan dalam hal ini adalah pohon.

Pelestarian sumber daya pohon dilakukan guna memastikan bahwa sumber daya ini tidak digunakan melebihi kemampuan daya pertumbuhannya. Tingkat minimal konsumsi harus sesuai dengan tingkat produksi. Dengan begitu, ekosistem dapat terus di daur ulang.

Pelestarian sumber daya memastikan agar fungsi ekosistem tidak minus. Apabila fungsi ekosistem tersebut minus, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem yang bisa memicu masalah lingkungan.

Sementara itu, sumber daya yang tidak terbarukan harus dipastikan ketersediaan cadangannya. Tujuan dari hal ini adalah, agar ketersediaan sumber daya tidak habis dan bisa dimanfaatkan oleh generasi mendatang.

Konservasi atau pelestarian sumber daya ini berfokus pada kebutuhan manusia, seperti kebutuhan bilogis, sosial budaya, ekonomi, rekreasi dan lain sebagainya. Akan tetapi, pemanfaatan tersebut harus dilakukan dengan bijak dan memperhatikan fungsi serta kelangsungan spesies dalam ekosistem.

Berkaitan dengan itu juga, manusia perlu memahami bahwa pembangunan memang perlu dilakukan. Akan tetapi, pembangunan tersebut mestilah memperhatikan lingkungan dan dilakukan dengan cara yang tidak boros sehingga tidak mengancam kelestarian lingkungan itu sendiri.

Konservasi dan Keanekaragaman Hayati

konservasi artinya
Pengertian konservasi erat kaitanya dengan keanekaragaman hayati. Pasalnya, pada sebuah konservasi terdapat berbagai jenis spesies. Pelestarian ini secara tidak langsung berperan dan bertanggung jawab dalam menjaga sumber daya dari berbagai sektor ,seperti industri, energy dan kesehatan.

Selain itu, tentu saja yang paling terpenting adalah keanekaragaman hayati yang akan terjaga. Sumber daya hayati sendiri merupakan unsur-unsur hayati yang terdiri dari sumber daya alam alam nabati atau tumbuhan dan hewani atau satwa.

Kedua unsur alam ini, bersama dengan sumber daya non hayati di sekitarnya akan membentuk sebuah ekosistem. Semua unsur dalam ekosistem yang dibentuk adalah bagian penting dari sumber daya alam yang memiliki fungsi masing-masing.

Lebih lanjutnya, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati memiliki peran yang penting dan tidak bisa digantikan. Karena itu, konservasi merupakan hal wajib untuk dilakukan oleh berbagai generasi.

Berkaitan dengan itu, World Wildlife Fund membagi golongan keanekaragaman hayati menjadi tiga tingkat. Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut.

1. Keanekaragaman Spesies

Keanekaragaman spesies ini mencakup berbagai spesies yang ada di bumi termasuk bakteri dan protista. Selain itu, spesies kingdom bersel banyak atau multiseluler seperti jamur, hewan dan tumbuhan juga termasuk.

Baca Juga  Daur Hidup Katak: Habitat, Jenis dan Manfaatnya

2. Keanekaragaman Genetik

Keanekaragaman genetik ini adalah variasi genetik pada satu spesies. Baik yang populasinya terpisah secara geografis maupun yang berada dalam satu populasi.

3. Keanekaragaman Komunitas

Untuk tingkat yang satu ini merupakan komunitas biologis yang berbeda dengan ekosistem atau lingkungan fisik masing-masing.

Kawasan konservasi alam bisa berkontribusi banyak bagi penduduk wilayahnya. Disini, keanekaragaman hayati tersebut dapat menarik wisatawan ke pedesaan.

Dengan demikian, pengembangan wilayah sebagai kawasan konservasi dan pariwisata bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Selanjutnya masyarakat setempat bisa bekerja di kawasan konservasi tersebut hingga dan menjadikannya sumber penghasilan untuk hidup.

Konservasi In Situ

pengertian konservasiPengertian konservasi In Situ adalah sebuah konservasi yang dilakukan di tempat, situs atau habitat asli. Dengan kata lain, pemantauan dan proses pengelolaan dilakukan langsung pada habitat atau ekosistem spesies.

Konservasi ini banyak digunakan untuk merehabilitasi kembali habitat yang rusak atau menjaga habitat spesies yang hampir punah. Kawasan ini mencakup kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Di bawah ini ada beberapa contoh konservasi In Situ.

1. Taman Nasional

Taman nasional merupakan salah satu jenis konservasi In Situ yang memiliki fungsi sebagai perlindungan dan penyangga kehidupan, hewan dan tumbuhan. Keberadaannya juga termasuk dalam upaya pelestarian sumber daya alam.

Selain sebagai tempat pelestarian alam, taman nasional juga penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan, budaya, pendidikan hingga sebagai sarana rekreasi.

Keanekaragaman hayati yang ada di taman nasional menarik untuk dipelajari. Hal ini membuat ada banyak penelitian yang dilakukan di taman nasional.

Namun demikian, tidak semua tempat pelestarian disebut sebagai taman nasional. Ada beberapa kriteria yang harus dimiliki untuk bisa disebut sebagai taman nasional. Apa saja kriteria tersebut? Berikut daftarnya.

* Sumber daya hayati dan ekosistem yang dimiliki haruslah unik, khas, masih utuh dan terjaga keasliannya. Selain itu, juga memiliki gejala alam yang unik.

* Luas yang dimiliki cukup untuk menjaga kelangsungan hidup hayati dari proses ekologis yang alami.

* Memiliki satu atau lebih ekosistem yang masih utuh.

* Tempat pelestarian bisa dibagi ke berbagai wilyah, yaitu zona pemanfaatan, zona inti, zona hutan atau rimba dan zona lain sesuai dengan kebutuhan.

Jika sebuah tempat pelestarian atau konservasi memiliki kriteria diatas, maka bisa menjadi wilayah taman nasional. Contoh konservasi yang termasuk taman nasional adalah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat) dan Taman Nasional Komodo.

Selain itu, di Indonesia ada juga Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci dan Taman Nasional Tanjung Puting.

Baca Juga  Pencemaran Tanah: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

2. Cagar Alam

Konservasi In Situ selanjutnya adalah cagar Alam sebuah kawasan perlindungan dengan ciri-ciri yang khas. yaitu, hewan atau tumbuhan yang pertumbuhan dan perkembangannya dilakukan secara alami.

Di Indonesia sendiri, cagar alam merupakan bagian dari kawasan konservasi suaka alam. Dengan begitu kegiatan yang bersifat komersial atau rekreasi tidak boleh dilakukan di kawasan ini.

Jika Anda ingin memasuki kawasan ini, maka Anda memerlukan SIMAKSI atau Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi. Untuk mendapatkan SIMAKSI, Anda bisa mengunjungi kantor BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat.

Dengan kata lain, tidak sembarang orang bisa memasuki area cagar alam. Hanya orang-orang yang sudah mendapatkan izin yang bisa memasukinya.

Contoh dari cagar alam di Indonesia cukup banyak. Diantaranya adalah Cagar Alam Martelu Purba yang terletak di Kabupaaten Langkat dan Cagar Alam Batu Gajah yang berlokasi di Kabupaten Simalungun.

3. Suaka Margasatwa

Suaka margasatwa merupakan kawasan hutan yang memiliki ciri khas tertentu. ciri tersebut berupa keunikan atau keanekaragaman jenis satwa di dalamnya yang membutuhkan perlindungan untuk kelangsungan hidup di habitatnya.

Kawasan yang umumnya ditetapkan sebagai margasatwa adalah kawasan yang memiliki nilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Selain itu juga kawasan yang termasuk dalam salah satu kekayaan nasional.

Pelestarian dalam suaka margasatwa tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu, tentu ini juga turut berperan dalam menjaga kelangsungan hidup ekosistem hayati yang ada di dalamnya.

4. Hutan Bakau

Hutan bakau termasuk kawasan konservasi In Situ karena kegiatan ini dilakukan di habitat aslinya yaitu rawa perairan payau atau garis pantai. Hutan bakau atau yang dikenal dengan hutan mangrove sendiri memang tumbuh di rawa perairan payau.

Letak hutan ini umumnya berada di garis pantai. Kelangsungan hidup hutan bakau dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Hutan mangrove memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah sebagai sistem pengakaran yang rapat dan kompleks. Sistem pengakaran ini menjadi aspek bagi sisa bahan organic dan endapan yang dibawa oleh air laut.

Dengan begitu, kejernihan dan kebersihan air laut akan terjaga dan secara tidak langsung ikut berperan dalam memelihara terumbu karang. Hutan bakau juga berfungsi untuk pembentukan daratan. Tanah dan endapan di atasnya akan membuat kembali garis pantai.

Contoh dari hutan mangrove diantaranya adalah hutan mangrove di Dangkalan Sunda yang menjadi muara bagi sungai-sungai besar dan relatif tenang.

Di timur Indonesia, ada Dangkalan Sahul yang memiliki banyak hutan mangrove, terutama di Teluk Bintuni. Luas hutan bakau di Papua merupakan sepertiga dari luas hutan bakau di Indonesia.

5. Taman Laut

Tidak hanya di daratan, konservasi juga perlu dilakukan di wilayah perairan, termasuk laut. Konservasi wilayah laut dapat menjaga kehidupan bawah laut, seperti ikan, terumbu karang dan lain sebagainya.

Konservasi laut biasa disebut dengan taman laut, yakni wilayah lautan yang mempunyai ciri khas keindahan alam dan dilindungi keanekaragaman hayati bawah lautnya. Contoh taman laut yang berada di Indonesia yang populer adalah Taman Laut Bunaken di Manado, Sulawesi Utara.

Konservasi Ex Situ

Konservasi Ex Situ

Konservasi Ex Situ adalah konservasi atau pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan di luar habitat asli. Lembaga yang melakukan konservasi ex situ diantaranya adalah kebun binatang, kebun raya dan penangkaran hewan atau satwa. Berikut penjelasan masing-masing jenis tersebut.

1. Kebun Raya

Kebun raya merupakan tempat yang dibuat dengan tujuan konservasi, rekreasi dan wisata edukasi. Berbeda dengan taman nasional atau cagar alam, kebun raya berisi tumbuhan dari berbagai tempat.

Dalam hal ini, tumbuhan dari habitat lain ditanam dan dikembangkan di kebun raya. Dengan kata lain, pertumbuhan dan perkembangan tersebut dilakukan di luar habitat aslinya. Diantara contoh kebun raya adalah kebun raya cibodas, kebun raya kuningan, kebun raya baturaden dan kebun raya bogor.

Baca Juga  Tempat Makan di Bogor dan 5 Makanan Legendaris

2. Kebun Koleksi

Tidak jauh berbeda dengan kebun raya, kebun koleksi merupakan kebun yang berisi koleksi berbagai jenis nutfah tanaman. Berbagai tumbuhan ini kemudian akan dikembangkan dan dipertahankan dalam keadaan hidup.

Kebun koleksi digunakan sebagai koleksi sumber daya genetik. Anda akan menemukan berbagai varietas dari spesies tertentu. Contoh dari kebun koleksi adalah kebun Plasma Nutfah Tumbuhan Puslit Bioteknologi Cibinong.

Konservasi Ex Situ juga bisa dilakukan pada hewan atau satwa. Seperti penangkaran hewan pada kebun binatang.

Tujuan Konservasi

Konservasi tidak dilakukan begitu saja tanpa tujuan. Setidaknya, tujuan umum dari konservasi adalah sebagai tempat pelestarian kelangsungan hidup sumber daya alam hayati. Secara rinci, tujuan dilakukannya konservasi sendiri adalah sebagai berikut

* Memelihara dan melindungi tempat yang dianggap bernilai agar tidak berganti, beralih, punah atau hancur.

* Melindungi benda bersejarah dari kerusakan, baik karena faktor alam, kimiawi atau mikro organisme.

* Melindungi, membersihkan, memelihara dan memperbaiki benda remover alam dari berbagai aspek kerusakan.

Manfaat Konservasi

Tujuan Konservasi
Coba bayangkan jika manusia tidak melakukan konservasi? Maka berapa banyak habitat dan ekosistem yang rusak dengan alasan pembangunan? Dan berapa banyak hewan dan tumbuhan yang kehilangan habitatnya?

Dengan konservasi, manusia berupaya untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan juga sumber daya alam. Konservasi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan, baik untuk manusia, lingkungan hingga spesies tertentu. Lalu, apa saja manfaat yang didapat dari konservasi?

1. Melindungi Kekayaan Ekosistem

Manfaat dari dilakukannya konservasi adalah untuk melindungi kekayaan ekosistem alam. Selain itu, konservasi juga bermanfaat untuk menjaga kehidupan berbagai komponen alam secara berkelanjutan.

Melestarikan satwa, tumbuhan atau lingkungan hidup pun dapat membuat ekosistem tetap seimbang. Jika ada satu rantai ekosistem saja yang hilang, maka akan membuat ekosistem minus dan membuat ekosistem tidak seimbang. Hal ini bisa menimbulkan masalah lingkungan lainnya.

2. Melindungi Spesies Langka

Seiring dengan pesatnya pembangunan, banyak habitat asli flora dan fauna yang dibabat untuk kepentingan manusia. Hal ini menyebabkan banyak habitat yang rusak dan mengancam kehidupan sumber daya hayati.

Rusaknya habitat asli menjadi salah satu faktor berkurangnya jumlah spesies tertentu hingga masuk dalam daftar spesies langka. Meskipun faktanya memang ada beberapa faktor lain yang ikut mempengaruhi jumlah spesies tertentu.

Baca Juga  Ternyata Banyak, Yuk Mengenal Jenis Burung Elang

3. Menjaga ekosistem dari kerusakan

Seperti yang dibahas sebelumnya, menjaga ekosistem merupakan hal penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam.

Ekosistem yang rusak atau tidak seimbang, akan menimbulkan masalah lingkungan. seperti bencana alam atau gangguan hama. Karena itulah konservasi harus dilakukan sehingga keamanan alam tetap terjaga.

4. Menjaga Kualitas Lingkungan

Manfaat selanjutnya dari b kualitas lingkungan. Seperti yang diketahui bahwa kawasan konservasi biasa dilakukan baik pada tumbuhan maupun hewan. Dalam hal ini, kawasan hutan pada wilayah konservasi berperan penting dalam penyerapan karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen.

Selain itu, daerah terbuka dengan banyak pohon menjadi tempat untuk menyerap air maupun polusi sehingga berperan penting dalam menjaga kualitas lingkungan. Jika tidak ada area hutan yang berfungsi untuk menyerap polusi, maka kualitas udara dan lingkungan akan sangat buruk.

5. Menjaga Sistem Penyangga Kehidupan

Sumber daya alam hayati merupakan penyangga dan kebutuhan penting bagi manusia. Sumber daya yang dimaksud diantaranya seperti kayu, tumbuhan, hewan hingga berbagai jenis mineral.

Penggunaan kayu yang berlebihan tentu akan menimbulkan kelangkaan terhadapnya. Sementara itu, konsumsi berlebihan pada sumber daya alam juga bisa mengancam keseimbangan alam.

Hal tersebut bisa menyebabkan habisnya sumber daya yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Habisnya sumber daya alam tentu akan menimbulkan banyak masalah sehingga pelestarian perlu dilakukan untuk menghindari hal tersebut di masa mendatang.

6. Menjaga Sumber Genetika

Konservasi menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Sumber daya alam hayati yang ada kemudian bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.

Salah satunya adalah sebagai bahan pangan dan obat-obatan. Hal ini mengingat banyak tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan obat untuk penyakit tertentu.

Dengan begitu, konservasi tidak hanya sebagai pelestarian lingkungan. Namun, juga menjadi penyangga pada berbagai bidang, yaitu kesehatan dan industri.

7. Mendukung Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Manfaat selanjutnya dari konservasi adalah sebagai salah satu tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Banyak penelitian yang dilakukan pada wilayah konservasi, baik dalam rangka melakukan pengamatan, observasi dan lain sebagainya.

Selain itu, kekayaan dan keanekaragaman hayati pada wilayah konservasi juga menjadi daya tarik para ilmuan untuk melakukan penelitian mendalam. Penelitian tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kehidupan manusia di berbagai aspek.

8. Sebagai Tempat Rekreasi

Konservasi baik secara In Situ maupun Ex Situ memang menarik untuk dikunjungi. Namun, untuk mengunjungi konservasi In Situ seperti cagar alam, pengunjung membutuhkan surat izin dari lembaga terkait.

Sebagai alternatif, Anda bisa mengunjungi konservasi Ex Situ seperti kebun raya, kebun binatang dan kebun koleksi. Dengan begitu, Anda dapat menikmati keanekaragaman hayati tanpa perlu mengunjungi cagar alam.

Berekreasi di kawasan konservasi juga bisa menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan. Tentu saja juga untuk mengenalkan keragaman flora dan fauna yang ada di Indonesia pada keluarga, khususnya anak-anak.

Dari pembahasan pengertian konservasi ini, perlu dipahami bahwa menjaga, melestarikan dan memelihara lingkungan adalah hal yang penting. Oleh sebab itulah kini konservasi terus digaungkan di berbagai negara.

Setiamah Setya

Setiamah Setya

Perkenalkan nama saya Setiamah. Pada dasarnya bermain kata adalah bagian hoby saya sejak lama. Seiring berjalannya waktu, akhirnya jadilah dia bagian dari hidup saya sejak beragam wawasan baru saya dapatkan dari menulis berbagai tema.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *