Memahami Etika: Cari Tahu dari Arti dan Contohnya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Terkesan sangat sederhana namun nyatanya dalam pelaksanaannya tak semudah itu.

Pepatah kuno mengatakan bahwa orang yang terpelajar adalah mereka yang mampu menjaga etika. Sayangnya sekarang ini banyak orang dengan gelar berderet,namun etikanya tak ada sama sekali. Mungkin benar adanya bahwa terpelajar dan terdidik itu berbeda.

Sebelum mengamalkan etika, ada baiknya kita memahami dulu mengenai definisi etika, arti etika dan contoh etika. Diharapkan dengan memiliki ilmunya, kita jadi lebih mudah dalam beramal.

Pengertian Etika Adalah Menurut Para Ahli

etikaAgar kita lebih tepat dalam memaknai dan memahami etika, mari kita belajar dari pendapat para ahli tentang apa itu etika. Ada 6 tokoh besar yang membagikan ide mereka terkait pengertian etika, sebagai berikut:

1. H. A Mustafa

H. A Mustafa menyampaikan bahwasanya etika adalah ilmu yang berfungsi untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu perilaku, apakah baik atau buruk.

2. Soergarda Poerbakawatja

Etika adalah menurut Pak Soergarda adalah ilmu yang akan mengarahkan dan memberikan pijakan kepada manusia dalam mengambil sebuah tindakan.

3. K. Bertens

Sekelompok nilai dan norma moral, atau yang biasa disebut dengan akhlak, yang kemudian menjadi pedoman bagi manusia dalam berperilaku. Pernyataan tersebut adalah definisi etika menurut K. Bertens.

4. Drs. H. Burhanudin Salam

Tak jauh berbeda dengan ahli lainnnya, Pak Burhanudin menyampaikan bahwa etika merupakan ilmu yang membahas tentang standar penilaian perilaku manusia. Beliau juga berkata bahwa etika merupakan cabang dari filsafat.

Baca Juga  Leadership: Intip Perbedaan Leadership dengan Leader

5. W. J. S Poerwadarminto

Definisi etika adalah menurut Bapak Poerwadarminto adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan perbuatan manusia. Landasan baik buruk perilaku tersebut harus sesuai dengan akal manusia.

6. Dr. James J Spillane J

Bapak James menyampaikan kalau etika diperlukan untuk menjadi kaca spion terhadap perilaku manusia. Etika diperlukan saat seseorang butuh mengambil keputusan terkait moral, akal budi dan benar salah.

Dari 6 definisi etika yang disampaikan oleh para ahli di atas, maka bisa disimpulkan bahwa arti etika adalah keilmuan yang memberikan panduan kepada manusia untuk berperilaku. Dalam perkembangannya, etika juga menjadi kontrol di masyarakat dalam menilai baik dan buruk perilaku manusia.

Jenis-jenis Etika

jjenis jenis etiika

Mengacu pada pengertian etika di atas, jenis-jenis etika bisa dipecah menjadi dua bagian utama, yaitu:

1. Etika Filosofis

Dari namanya saja sudah bisa diketahui bila jenis etika ini merupakan suatu etika yang dilahirkan dari olah pikir manusia. Sifat etika filosofis ada dua; empiris dan non empiris. Dimaksud empiris jika yang etika digunakan sebagai dasar perilaku manusia yang konkret. Contoh etika ini dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam penegakan hukum.

Sementara sifat non empirik mengacu pada etika yang digunakan sebagai panduan perilaku manusia yang bersifat non konkret. Misal tentang mempertanyakan keberadaan Tuhan dan penciptaan alam semesta.

2. Etika Teologis

Berbeda dengan etika filosofis yang dilahirkan dari olah pikir manusia yang bisa jadi subjektif. Antara manusia satu dan manusia yang lainnya bisa jadi memiliki standar etika yang berbeda. Misalnya masyarakat yang tinggal di kota dengan masyarakat yang tinggal di desa bisa jadi memiliki standar etika tak sama.

Etika teologis mengatur perilaku manusia berdasarkan ajaran agama. Kitab-kitab setiap agama tentu saja memberikan referensi perilaku baik dan buruk sesuai dengan Tuhan dan para nabinya. Antara satu agama yang satu dan lainnya bisa jadi memiliki standar etika yang juga berbeda, namun standar kebaikan di setiap agama pastinya sama.

Baca Juga  Keanekaragaman Hayati: Pengertian, Manfaat dan 3 Contohnya

Meski terlihat berbeda, namun kedua jenis etika di atas sebenarnya saling berkesinambungan. Pola pikir manusia yang terjaga seharusnya tak akan pernah keluar dari rel kebaikan sebagaimana yang direferensikan dalam ajaran agama.

Dalam perkembangannya jenis etika juga melebar ke berbagai bidang kehidupan, seperti etika bisnis dan etika profesi. Pada dasarnya etika bisnis dan profesi sama-sama berlatarbelakang dari etika secara umum. Yaitu panduan dalam berperilaku.

Bedanya, etika bisnis adalah panduan bagi para pebisnis dalam menjalani usaha bisnisnya, seperti bagaimana cara menawarkan barang dagangan yang tepat, beriklan dengan bijak dan bagaimana melayani klien. Sementara etika profesi adalah panduan perilaku baik dan buruk terkait profesi tertentu. Misal profesi perawat, maka ada beberapa etika yang harus dijaga dan tak dimiliki oleh profesi lainnya.

Apakah Manfaat Etika?

contoh etika

Tidak ada ilmu di dunia ini yang tak bermanfaat, begitu juga etika. Setidaknya ada 6 manfaat etika yang harus diketahui:

– Etika mampu memberikan pertolongan kepada diri sendiri ketika dihadapkan dalam beragam sudut pandang.

– Etika membantu kita untuk membedakan manakah perilaku yang boleh diubah, dan mana yang tidak boleh. Mana perilaku yang akan membuat orang lain nyaman dan manakah yang tidak.

– Etika adalah alat bantu yang tak boleh lenyap dikarenakan tonggak dalam menyelesaikan aneka masalah di masyarakat. Ketika di sebuah tempat mengalami masalah yang pelik, etika menjadi pedoman dalam menyelesaikan masalah tersebut dan mengambil keputusan yang tepat.

– Etika adalah tempat bertanya di saat diri mulai kebingungan mengenai baik dan buruk.

– Etika juga bisa difungsikan untuk menunjukkan keterampilan intelektual. Yaitu ketrampilan dalam menampilkan argumentasi secara tepat, rasional dan tidak asal ngegas.

– Etika juga seharusnya memiilki orientasi terhadap pluralisme, tidak boleh fanatik, namun juga tidak boleh berlebihan.

Perbedaan Etika dan Etiket

Perbedaan Etika dan Etiket

Masih banyak masyarakat yang kurang bisa membedakan antara etika dan etiket. Sederhananya, etika adalah niat dan pikiran sebelum terjadinya perilaku. Sementara etiket adalah perilaku itu sendiri.

Etika bersifat batiniah, yang muncul karena kesadaran diri sendiri. Sedangkan etiket bersifat lahiriah, muncul dalam bentuk perilaku yang memiliki kesan sopan dan santun.

Etika memiliki ciri absolut, maksudnya ia tak terbatas pada tempat dan wilayah. Etika juga tak terbatas adanya orang lain atau tidak. Etika menyangkut pemahaman diri sendiri atas baik dan buruk.

Sedangkan etiket berciri relatif. Perilaku sopan di sebuah wilayah tertentu bisa jadi tak berlaku di wilayah lain.Etiket juga hanya berlaku bila ada orang lain di sekitar kita, bila tidak ada orang lain yang hadir maka etiket tidak berlaku.

Baca Juga  Ajudikasi: 5 Tahapan Sidang dan Contohnya

Contoh etiket dalam kehidupan sehari-hari; menggunakan tangan kanan saat menerima atau memberi sesuatu. Etiket ini hanya berlaku tentu saja ketika ada orang yang menjadi partner kita melakukan perbuatan ini. Jika tidak ada orang lain, etiket tidak bisa dilakukan.

Sementara contoh etika adalah pemahaman diri terhadap perilaku mencuri. Di sini yang dinilai adalah akhlak dari sang pelaku. Misal sang pelaku mencurinya menggunakan tangan kanan, tetap saja perilaku mencuri adalah hal yang salah. Ada atau tidak ada orang, keinginan untuk mencuri seharusnya tetap tidak akan muncul.

Etika adalah sumber dari etiket, dan etiket adalah hasil dari manusia yang mampu memahami ilmu etika dengan baik.

Kebutuhan Pendidikan Etika di Indonesia

Kebutuhan Pendidikan Etika di Indonesia

Saat ini bisa dibilang etika di Indonesia mulai tergerus. Semakin banyak kita lihat anak-anak yang tak memiliki budi pekerti dan etiket yang baik. Ada banyak kasus kriminal mengerikan dilakukan oleh anak-anak muda. Tentu saja kasus-kasus tersebut berkaitan dengan kurangnya pendidikan etika di Indonesia.

Pendidikan yang terlalu banyak mengedepankan akademis dan angka-angka mungkin bisa melahirkan anak-anak pandai. Namun anak-anak pandai belum tentu memiliki pemahaman etika yang baik. Oleh karena itu, sudah saatnya di Indonesia diberikan kembali pendidikan etika sehingga generasi masa depan bangsa ini jauh lebih beradab dan bermoral. Adapun langkah-langkah pendidikan etika yang bisa dilakukan di Indonesia:

1. Dicontohkan oleh Orangtua dan Guru

Tidak ada pendidikan etika yang lebih baik dari teladan orang-orang dewasa di sekitarnya. Bagaimana mungkin anak-anak akan belajar tentang sopan santun dan lemah lembut, ketika orang dewasa yang ada di sekitarnya adalah orang-orang yang kasar? Maka jika ingin generasi muda bangsa ini memiliki etika yang baik, orang-orang dewasa harus mampu mencontohkan terlebih dahulu bentuk dari etika baik tersebut.

2. Ajak Anak-anak Studi Kasus

Di sekolah daripada diajarkan sekedar teori, anak-anak bisa diajak studi kasus. Guru bisa menyediakan sebuah kasus mengenai etika, dan ajak anak diskusi untuk menggali pemahaman mereka tentang kasus tersebut dan bagaimana cara terbaik menyelesaikannya.

Baca Juga  Perbedaan Variabel Bebas dan Terikat Berikut Contohnya

3. Berikan Apresiasi pada Perilaku Baik

Banyaknya anak-anak berperilaku buruk karena kehilangan pemahaman terhadap etika bisa jadi lahir karena kurang mendapat apresiasi ketika mereka melakukan hal-hal baik. Sebaliknya guru dan orang tua lebih sering mengomentari hal-hal buruk berulangkali, yang malah membuat hal buruk tersebut menjadi kebiasaan.

Maka dari sekarang, yuk berikan apresiasi sebanyak-banyaknya terhadap perbuatan-perbuatan baik anak. Lalu berikan komentar secukupnya pada perbuatan-perbuatan buruk. Selebihnya tindak dengan tegas perbuatan buruk tersebut jika sudah dilakukan berulangkali.

Etika adalah hal penting yang harus dijaga keberadaannya. Tanpa etika, dunia ini akan semakin jauh dari kata ramah dan nyaman. Semoga artikel ini bermanfaat.

Marita Ningtyas

Marita Ningtyas

A Writerpreneur, tinggal di kota Lunpia. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *