Serba-Serbi Nomor Lari Jarak Pendek

Nomor Lari Jarak PendekLari adalah salah satu bentuk olahraga yang paling umum dan sering dilakukan oleh banyak orang.

Syarat yang diperlukan untuk melakukan olahraga lari tidak banyak sehingga jenis olahraga yang satu ini dapat dilakukan oleh siapa pun, di manapun dan kapan pun.

Agar dapat melakukan olahraga lari, seseorang harus memiliki fisik yang kuat serta tersedia lingkungan yang terbuka. 

Lari adalah salah satu cabang olahraga atletik dan sering diperlombakan dalam berbagai event resmi seperti Pekan Olahraga Nasional atau PON, Asian Games, SEA Games, olimpiade, serta berbagai kejuaraan lain yang diselenggarakan di bawah International Association of Athletics Federations atau IAAF. 

Sebagai salah satu cabang olahraga yang paling banyak dilakukan oleh orang-orang di seluruh dunia, lari memiliki beberapa cabang pertandingan di antaranya lari gawang, lari estafet, marathon, lari jarak pendek, jarak menengah dan jarak panjang. 

nomor lari jarak pendek

Di antara berbagai cabang pertandingan lari, lari jarak pendek atau yang akrab disebut sprint adalah cabang olahraga lari yang menuntut kecepatan dari seorang atlet lari sprint atau sprinter.

Untuk memenangkan suatu pertandingan lari dengan jarak pendek, seorang sprinter harus memililki beberapa kemampuan. 

Kemampuan yang diperlukan oleh seorang sprinter di antaranya kecepatan berlari yang baik, reaksi yang cepat, tepat waktu saat melakukan start, teknik berlari yang efisien dan cepat serta kemampuan untuk mempertahankan kecepatan berlari dari awal hingga akhir perlombaan. 

Pemenang pertandingan sprint ditentukan dari catatan waktu yang paling singkat dari sprinter yang berpartisipasi dalam perlombaan.

Artinya, seorang sprinter harus memiliki kekuatan dan kecepatan berlari yang baik sepanjang garis lintasan yang digunakan selama perlombaan berlangsung. 

Lari jarak pendek dalam suatu perlombaan resmi dibagi lagi menjadi beberapa kategori lomba atau nomor lari jarak pendek berdasarkan jarak yang harus ditempuh, yaitu short sprint dengan jarak lintasan 100 meter, medium sprint dengan jarak lintasan 200 meter dan long sprint yang jarak lintasannya mencapai 400 meter. 

Pengertian Lari Jarak Pendek Menurut Ahli

Secara umum, lari jarak pendek atau sprint adalah suatu cabang olahraga lari dengan lintasan yang pendek. Namun, pendapat ahli berbeda-beda tentang pengertian sprintatau lari dengan jarak pendek.

Beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian sprint di antaranya adalah Adisasmita, Syarifudin dan Muhadi, dan Muhajir.

Menurut Adisasmita (1992), sprint atau lari jarak pendek adalah semua nomor lari yang dilakukan dengan kecepatan maksimal atau kecepatan penuh sepanjang jarak lintasan yang harus ditempuh atlet. 

Sedangkan menurut Syarifudin dan Muhadi (1992), sprint adalah cara berlari di mana atlet harus menempuh seluruh jarak dengan kecepatan semaksimal mungkin sehingga atlet harus mengerahkan segenap kekuatan dan kecepatan larinya dari start atau awal hingga akhir lintasan atau finish.

Menurut Muhajir (2007), lari jarak pendek atau sprint adalah perlombaan lari yang seluruh pesertanya menggunakan kecepatan penuh untuk menempuh jarak lintasan baik 100 m, 200 m maupun 400 m. 

Sejarah Lari Jarak Pendek

Sebelum menjadi cabang olahraga yang banyak diperlombakan atau dipertandingkan, lari jarak pendek memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari olimpiade pertama di dunia pada masa Yunani Kuno. 

Olimpiade pertama di dunia yang dilaksanakan pada masa Yunani Kuno memperlombakan satu cabang olahraga yaitu cabang olahraga lari.

Diduga cabang olahraga lari yang diperlombakan saat itu dilakukan untuk mengenang sekaligus tanda penghormatan kepada seorang prajurit Yunani yang berlari sejauh 40 km untuk membawa pesan kemenangan perang Yunani atas Persia.

Prajurit tersebut kemudian meninggal setelah sampai di Athena dan mengabarkan kemenangan perang sehingga dibuatlah suatu perlombaan dengan lari sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan. 

Setelah cabang olahraga lari, cabang olahraga lain kemudian ditambahkan ke dalam penyelenggaraan olimpiade seperti lempar tombak, bela diri, dan memanah.

Cabang olahraga lari memang telah diperkenalkan sejak zaman olimpiade pertama Yunani Kuno, namun cabang olahraga lari jarak pendek baru diperkenalkan pada olimpiade modern di Athena, Yunani  pada tahun 1896.

Sejak diperlombakan di ajang olimpiade modern, lari jarak pendek atau sprint menjadi cabang olahraga yang terus dipertandingkan setiap kali event olimpiade diselenggarakan.

Selain olimpiade modern, olahraga sprint juga diperlombakan di berbagai event olahraga lainnya. 

Olahraga sprint dalam perkembangannya menjadi salah satu cabang olahraga yang populer dan sangat terkenal di dunia tidak terkecuali Indonesia.

Indonesia bahkan memiliki beberapa sprinter berbakat yang telah banyak menorehkan prestasi dan mengharumkan nama bangsa Indonesia. 

Teknik Sprint

Sprinter adalah sebutan yang diberikan kepada atlet yang melakukan olahraga sprint atau lari cepat. Olahraga sprint meskipun memiliki lintasan jarak lari jarak pendek yang sangat pendek, namun olahraga sprint menuntut banyak sekali kemampuan serta teknik khusus. 

Teknik-teknik yang dibutuhkan oleh seorang sprinter saat pertandingan atau perlombaan di antaranya teknik start, gerakan berlari, serta gerakan finish. Namun, sebelum mempelajari ketiga teknik tersebut, seorang atlet sprint atau sprinter membutuhkan beberapa pengetahuan dasar terkait teknik atau cara lari sprint yang benar. 

Teknik lari sprint yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh atlet atau sprinter yang pertama adalah mencondongkan tubuh  sedikit ke arah depan saat berlari.

Lengan atlet atau sprinter juga harus diatur agar membentuk sudut 90 derajat. Saat berlari, lengan harus diayunkan searah dengan gerakan lari. 

Teknik lari sprint yang kedua adalah menjaga agar otot-otot bagian depan dan kedua lengan tetap rileks saat berlari. Tungkai bawah juga harus ditolakkan dengan kuat hingga lurus serta usahakan agar paha dapat terangkat dalam posisi yang sejajar dengan tanah. 

Posisi pinggang harus dijaga ketinggiannya saat melakukan lari sprint. Artinya, ketinggian pinggang saat berlari harus dipertahankan dan tetap dalam ketinggian yang sama.

pelari

Saat mencapai garis finish, badan harus dicondongkan ke depan agar bagian dada atlet atau sprinter menyentuh pita yang terpasang pada garis finish

Setelah menguasai beberapa teknik dasar lari sprint di atas, calon atlet lari sprint atau sprinter dapat mempelajari teknik lain dalam lari sprint yaitu teknik start, gerakan berlari dan gerakan finish

Teknik start

Baca Juga  Senam Lantai: Sejarah, Gerakan dan 12 Manfaatnya

Start merupakan persiapan awal bagi seorang pelari cepat sebelum melakukan gerakan berlari. Dalam lari sprint, teknik start lari jarak pendek memiliki tujuan khusus yaitu untuk mengoptimalkan lari cepat seorang sprinter atau atlet lari cepat.

Secara umum ada tiga macam teknik start yang dapat digunakan dalam perlombaan lari sprint atau lari cepat. 

Tiga macam start pada lari sprint adalah start pendek, start menengah dan start panjang. Masing-masing macam teknik start tersebut memiliki karakteristik dan tahapan pelaksanaan yang berbeda-beda. 

Teknik start lari jarak pendek yang pertama adalah start pendek atau yang disebut juga bunch start. Saat seorang pelari cepat atau sprinter akan melakukan start pendek, kaki kiri harus diletakkan di depan dan lutut kanan diposisikan di sebelah kaki kiri dengan jarak kurang lebih satu kepalan tangan. 

Selain memposisikan kedua kaki di tempat yang tepat, kedua tangan juga harus diposisikan di tempat yang tepat agar seorang pelari cepat dapat melakukan start pendek dengan baik.

Saat melakukan start pendek, kedua tangan harus diposisikan di belakang garis start dengan empat jari tangan yang dirapatkan sementara ibu jari terpisah. 

Selain start pendek, ada start menengah atau medium start. Start menengah akan dapat dilakukan dengan baik apabila kaki kiri diletakkan di depan, lutut kanan di sebelah kanan tumit kaki kiri yang dipisahkan dengan jarak satu kepalan tangan. 

Posisi tangan pada start menengah masih sama dengan posisi tangan pada start pendek, yaitu kedua telapak tangan diletakkan di belakang garis start dengan empat jari yang dirapatkan satu sama lain dan ibu jari terpisah.

Start panjang atau yang juga disebut dengan long start dapat dilakukan dengan cara meletakkan kaki kiri di depan, tetapi lutut kaki kanan diletakkan di belakang kaki kiri dan dipisah oleh jarak satu kepalan tangan. Posisi tangan pada long start tetap sama dengan posisi tangan pada bunch start dan medium start.

Menentukan posisi atau teknik start lari jarak pendek yang akan digunakan sangatlah penting. Setelah menentukan posisi atau teknik start yang tepat, seorang atlet lari juga perlu mengambil posisi atau mengikuti aba-aba dari starter.

Bersedia

Aba-aba pertama yang digunakan saat perlombaan lari adalah ‘bersedia’. Saat starter atau pemberi aba-aba memberikan aba-aba ‘bersedia’, seorang atlet lari harus menyesuaikan gerakan dengan aba-aba tersebut. 

Gerakan yang harus dilakukan pelari saat starter memberikan aba-aba ‘bersedia’ adalah menempatkan kedua kaki menyentuh balok depan dan belakang, serta meletakkan lutut kaki belakang di tanah dengan jarak selebar bahu.

Sedangkan jari-jari tangan harus membentuk huruf V terbalik, kepala sejajar punggung serta mata menatap lurus ke bawah. 

Siap

Saat starter memberi aba-aba ‘siap’ pada atlet lari, posisi tubuh yang harus dilakukan atlet lari adalah menekuk lutut ke belakang, kaki depan membentuk sudut siku-siku, serta kaki belakang membentuk sudut sekitar 120 hingga 140 derajat. 

Atlet lari juga harus mengangkat pinggangnya sedikit lebih tinggi dari bahu kemudian mencondongkan tubuh ke depan. Selain itu, bahu atlet lari juga harus diposisikan agak lebih maju dari kedua tangan. 

Ya 

Baca Juga  Polo Air: 12 Cara Bermain, Peraturan dan Tekniknya

Aba-aba terakhir yang akan diberikan oleh starter pada saat atlet lari melakukan start adalah aba-aba ‘ya’. Setelah starter memberikan aba-aba ini, pelari harus segera meluruskan serta mengangkat tubuhnya tepat ketika kedua kakinya menekan atau menolak dengan kuat balok start

Kedua tangan pelari juga harus diangkat dari tanah secara bersamaan kemudian diayunkan secara bergantian saat berlari. Kaki belakang seorang pelari harus memberikan dorongan yang lebih kuat kemudian lakukan dorongan kaki depan sedikit demi sedikit. 

Setelah itu, ayunkan kaki belakang dengan cepat. Di akhir dorongan, pelari harus mencondongkan tubuhnya ke depan serta meluruskan pinggang serta lutut secara penuh. 

sampai garis finish

Gerakan berlari

Gerakan berlari pada lari cepat atau sprint terdiri dari dua tahap atau fase yaitu fase topang dan fase layang. Berikut ini uraian singkat tentang kedua fase gerakan berlari tersebut.

  • Fase topang

Fase topang dalam teknik gerakan berlari adalah fase yang memiliki tujuan untuk meminimalkan hambatan saat kaki menyentuh tanah.

Fase topang juga dapat memaksimalkan dorongan ke depan saat seorang atlet atau pelari sedang berlari.  Fase topang terdiri dari topang depan serta topang dorong. 

Fase topang dalam teknik gerakan berlari dapat dilakukan dengan cara menggunakan telapak kaki saat kaki mendarat di tanah. Pada bagian kaki yang menopang, bengkokan lutut seminimal mungkin pada saat amortasi. 

Kaki ayun juga harus dipercepat dengan pinggang, sendi lutut serta mata kaki dari kaki yang menopang diluruskan kuat-kuat saat akan bertolak. Paha kaki ayun harus naik dengan cepat hingga posisi horisontal atau sejajar dengan tanah saat berlari.

  • Fase layang

Fase layang pada teknik gerakan berlari memiliki tujuan untuk memaksimalkan dorongan ke depan serta mempersiapkan penempatan kaki yang efektif saat menyentuh tanah.

Fase layang gerakan berlari ini dapat dilakukan dengan cara lutut kaki ayun digerakkan ke depan dan ke atas. 

Lutut kaki topang bengkok saat dalam fase pemulihan dengan ayunan lengan yang aktif tetapi rileks, kemudian kaki topang bergerak ke belakang. 

  • Gerakan finish

Garis finish adalah tujuan utama bagi setiap pelari yang mengikuti perlombaan karena tugas seorang pelari akan selesai ketika mencapai garis finish.

Seorang pelari dianggap telah mencapai garis finish ketika bagian-bagian tubuhnya sudah berada dalam bidang vertikal dari sisi terdekat garis finish yang telah ditentukan sesuai aturan. 

Bagian-bagian tubuh yang dimaksud tersebut adalah kepala, leher, lengan dan kaki. Agar pelari dapat mencapai garis finish dengan efisien, ada teknik yang harus dikuasai oleh pelari saat mendekati garis finish serta setelah melewati garis finish

Saat pelari telah melihat garis finish dengan jelas, pelari harus mempercepat gerakan larinya sambil tetap menjaga fokusnya.

Pelari juga harus memusatkan pikirannya untuk mencapai garis finish, memfokuskan pandangan ke depan serta tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri.

Melompat adalah salah satu hal yang tidak boleh dilakukan pelari saat mendekati garis finish karena melompat justru akan memperlambat kecepatan seorang pelari. Pelari harus menjaga gerakannya agar tetap stabil saat garis finish semakin dekat kurang lebih dalam jarak 10 meter. 

Saat melewati garis finish, ada tiga gerakan yang dapat dilakukan seorang atlet lari jarak dekat atau sprinter, yaitu menjatuhkan dada ke depan, berlari secepat mungkin dan menjatuhkan salah satu bahu ke depan. 

Pelari dapat menjatuhkan dada ke depan saat melewati garis finish dengan cara terus berlari kemudian saat mendekati garis finish dada dicondongkan ke depan sementara kedua tangan diayunkan ke bawah belakang atau biasa juga disebut ‘the lunge’.

Teknik mencondongkan dada ke depan adalah teknik melewati garis finish yang paling sering digunakan oleh pelari dalam perlombaan, terutama saat beberapa pelari melewati garis finish secara bersamaan.

Pemenang perlombaan lari dengan situasi semacam ini didapatkan dengan melihat pelari yang bagian tubuhnya terlebih dahulu menyentuh pita. 

Berlari secepat mungkin adalah teknik melewati garis finish yang paling sederhana karena tidak membutuhkan gerakan khusus.

Teknik melewati garis finish yang satu ini dapat dilakukan dengan cara berusaha berlari secepat mungkin melebihi lawan. 

Selain kedua teknik melewati garis finish lainnya, pelari juga dapat melewati garis finish dengan cara menjatuhkan salah satu bahu ke depan.

Teknik melewati garis finish dengan menjatuhkan salah satu bahu  ke depan dapat dilakukan dengan cara memutar dada dengan ayunan tangan ke arah depan. Akibatnya, sebelah bahu maju ke depan atau ‘the shruge’.

pemanasan sebelum lari

Nomor Lari Jarak Pendek

Lari jarak pendek atau sprint dalam suatu perlombaan dibagi menjadi beberapa kategori atau nomor perlombaan.

Penentuan nomor lari jarak pendek berdasarkan panjang atau jarak lintasan yang harus ditempuh oleh pelari jarak pendek atau sprinter

Kategori perlombaan sprint dibagi menjadi tiga yaitu nomor lari dengan panjang lintasan 100 meter, 200 meter dan 400 meter.

Panjang lintasan pada setiap nomor lari jarak pendek tersebut menyebabkan pelari jarak pendek atau sprinter pada tiap kategori menggunakan teknik serta pengelolaan energi yang berbeda. 

Pada nomor lari jarak pendek 100 meter, pelari umumnya akan mengerahkan kecepatan serta tenaganya hingga maksimal dari awal hingga akhir lintasan. Sebaliknya, pada nomor lari yang lebih besar pelari jarak pendek akan menyimpan kecepatan serta tenaga maksimalnya saat mendekati garis finish

Di antara ketiga nomor lari jarak pendek, kategori 100 meter adalah yang paling sering diperlombakan. Umumnya, perlombaan untuk nomor lari 100 meter diadakan di tepi lintasan outdoor

Nomor lari jarak pendek kategori 100 meter sering dianggap sebagai nomor paling bergengsi dari cabang olahraga sprint karena pemenangnya akan mendapatkan gelar sebagai manusia tercepat di dunia. 

manfaat lari jarak pendek

Manfaat Lari Jarak Pendek

Olahraga sprint sebagai salah satu jenis olahraga memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari lari cepat atau sprintadalah sebagai berikut.

1. Membakar lemak

Baca Juga  Tidak Sulit, Ini 5 Teknik Dasar Bola Basket Untuk Pemula

Olahraga sprint yang dilakukan secara rutin dengan cepat telah terbukti lebih efektif membakar lemak dibanding lari perlahan atau jogging. Tidak seperti jogging, sprint adalah olahraga yang memiliki intensitas tinggi yang artinya energi yang dibutuhkan pun lebih besar. 

Karena itulah pembakaran lemak yang terjadi saat melakukan olahraga sprint akan berlangsung lebih cepat dan lebih banyak. 

2. Meningkatkan pertumbuhan

Hormon pertumbuhan yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dalam tubuh sangat penting bagi pertumbuhan.

Produksi hormon tersebut akan semakin meningkat saat melakukan aktivitas olahraga sprint atau berlari dengan cepat. Lari cepat yang dilakukan secara rutin akan membuat tulang dapat tumbuh dengan optimal. 

3. Membentuk otot dan menguatkan tulang

Olahraga lari cepat yang termasuk latihan anaerobik dapat membangun otot secara efektif sama halnya seperti aktivitas latihan beban.

Saat melakukan latihan beban, tubuh akan dituntut untuk menghasilkan letupan energi pendek yang dapat meningkatkan kekuatan otot. Hal ini juga berlaku pada lari jarak pendek

Namun, tidak seperti latihan beban yang hanya membentuk otot pada bagian tubuh tertentu, pada lari jarak pendek atau sprint otot yang digunakan secara bersamaan lebih banyak mencapai puluhan. Artinya, sprint merupakan olahraga latihan otot yang paling lengkap. Berlari dengan cepat atau sprint akan membuat bentuk serta massa otot menjadi lebih ideal. 

Selain dapat membentuk otot agar menjadi lebih ideal, olahraga sprint atau lari cepat juga dapat menguatkan tulang karena olahraga tersebut melatih tulang untuk menopang beban tubuh sembari bergerak atau berlari dengan cepat. 

hati merah

4. Meningkatkan kebugaran jantung

Berlari merupakan salah satu jenis olahraga yang akan membuat jantung bekerja dengan lebih keras. Saat melakukan olahraga lari seperti lari cepat atau sprint, energi yang dibutuhkan serta oksigen yang dibutuhkan lebih banyak. Artinya, jantung pun akan bekerja lebih cepat untuk memompa darah yang mengandung oksigen. 

Karena itulah melakukan sprint secara rutin dapat melatih serta meningkatkan kebugaran jantung hingga mendekati kecepatan maksimalnya sehingga jantung dapat bekerja dengan lebih efisien.

Selain itu, sprint juga dapat meningkatkan sistem kardiovaskular yang akan membantu jantung untuk mengambil lebih banyak oksigen saat berolahraga.

5. Meningkatkan kecepatan gerak

Kecepatan gerak tidak hanya dibutuhkan pada perlombaan lari dengan cepat atau sprint saja, tetapi juga diperlukan di cabang olahraga lain yang membutuhkan kelincahan serta kecepatan gerak misalnya sepak bola. 

Melakukan lari cepat atau sprint secara rutin dapat meningkatkan kecepatan gerak serta kelincahan pemain sepak bola dalam menggiring bola.

Selain itu, lari cepat juga dapat membantu atlet sepak bola berlari cepat dalam waktu lama sembari tetap fokus pada bola yang sedang digiring. Atas alasan itulah sprint menjadi menu wajib dalam program latihan atlet sepak bola. 

6. Memperbaiki metabolisme

Melakukan olahraga secara rutin dapat memperbaiki metabolisme tubuh. Tentunya, lari dengan cepat atau sprint juga termasuk jenis olahraga yang dapat membantu memperbaiki metabolisme tubuh. 

Menurut penelitian, melakukan olahraga lari secara rutin tak hanya dapat meningkatkan metabolisme tubuh tetapi juga dapat mencegah berbagai penyakit serius lainnya seperti diabetes dan obesitas. 

Dika Permana

Dika Permana

Hidup di dunia maya ditemani suara keyboard yang nyaring berbunyi. Yuk jelajahi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *