Scabies Kucing: Pengertian dan Cara Menanganinya

Scabies Kucing – Seperti halnya anjing, kucing juga bisa terkena kudis, tapi untungnya kondisi tersebut jauh lebih jarang. Istilah kedokteran untuk kudis disebut dengan scabies.

Bentuk paling parah dari masalah ini akan membuat hewan peliharaan Anda tidak berbulu dan kulitnya sangat teriritasi. Walaupun kudis lebih sering terlihat pada hewan liar, pemilik kucing harus mewaspadai gejalanya sehingga mereka dapat mencari bantuan jika kucing peliharaan mereka mengalaminya sebelum kondisinya menjadi lebih parah.

Scott Gavaletz, seorang dokter hewan dan pemilik Rumah Sakit Hewan Branford di Branford, Connecticut, menggambarkan scabies adalah “satu-satunya penyakit paling gatal yang bisa diderita kucing.” Dari deskripsi tersebut, pemilik kucing seharusnya tahu harus melakukan apa saja agar bisa mencegah kudis menjangkiti hewan peliharaan mereka.

Apa itu Scabies Kucing?

Apa itu Scabies KucingScabies Kucing adalah nama lain untuk kutu atau tungau. Dua jenis kudis yang paling umum adalah Demodex cati (kudis hitam) dan Scabies Sarcoptes (kudis merah). Tungau ini bersembunyi di bawah kulit sehingga menyebabkan rasa gatal yang ekstrem dan kerontokan rambut pada kucing.

Demodex cati ditemukan hampir pada semua kucing, tetapi pada kucing yang immunocompromised, tungau dapat berkembang dengan pesat dan menjadi kelebihan populasi.

Hal inilah yang dapat menyebabkan masalah. Menurut Companion Animal Parasite Council, pertumbuhan berlebih ini dapat dikaitkan dengan penyakit sistemik yang mendasarinya. Jenis scabies ini biasanya hanya terlihat pada anak kucing dan kucing yang sudah tua. Sejauh ini Demodex tidak dianggap menular.

Scabies Sarcoptes lebih jarang terlihat daripada Demodex cati dan dapat diperoleh jika kucing bersentuhan dengan satwa liar atau hewan lain yang memiliki kutu tungau. Inilah sebabnya mengapa kucing yang hidup di luar rumah jauh lebih rentan terhadap kudis daripada kucing rumahan.

Baca Juga  8 Jenis Kucing Hutan: Ketahui Ciri-Ciri dan Sifatnya

Kudis jenis ini adalah tungau yang sangat menular baik bagi hewan maupun manusia, sehingga mereka juga merupakan masalah kesehatan manusia.

Selain dua jenis di atas, Cheyletiella adalah jenis tungau lain, sering disebut sebagai ketombe berjalan. Tungau ini hidup di lapisan luar kulit daripada di bawahnya. Cheyletiella paling sering terlihat pada kelinci tetapi juga bisa menjadi masalah bagi kucing.

Jenis scabies lainnya yaitu kudis notedrik. Penyakit ini mirip dengan kudis sarcoptic pada anjing. Tungau ini menyebabkan infeksi kulit yang parah pada kucing, umumnya dimulai pada wajah dan telinga lalu bisa menyebar ke seluruh tubuh, dan sangat menular.

Jenis kudis yang terakhir yaitu tungau telinga atau biasa disebut sebagai kudis otodectic. Otodectes cynotis menginfeksi telinga kucing, di mana mereka bisa menyebabkan gatal dan peradangan. Tungau ini sangat umum terlihat pada kucing tetapi kebanyakan orang tidak menyebutnya sebagai kudis.

Gejala yang Dialami Kucing

Gejala scabies kucing
Gatal-gatal, kulit kemerahan, rambut rontok, kulit kering, bengkak, dan sering menjilati atau merapikan bulu secara berlebihan bisa menjadi gejala kudis pada kucing.

Gejala-gejala ini juga akan menyebabkan kegelisahan, lekas marah, dan sakit. Gejala dapat terjadi sekitar satu minggu setelah paparan dan akan memburuk jika scabies pada kucing tidak segera diobati.

Baca Juga  Selain Orangutan, Ini 16 Hewan Langka di Indonesia Lainnya

Kudis, tungau telinga, dan ketombe berjalan semuanya menular, jadi jika kucing berada di dekat binatang yang memiliki salah satu bentuk kudis ini, mereka juga akan terinfeksi. Selain itu karena Kudis juga zoonosis, ia dapat ditularkan bolak-balik dari kucing ke manusia dan sebaliknya.

Ketika manusia bersentuhan dengan hewan yang menderita kudis, tungau dapat menyebabkan ruam benjolan merah, mirip dengan gigitan nyamuk. Kebanyakan infeksi tungau kudis pada manusia sangat terbatas, karena tungau tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya dari inang kucing asli mereka. Namun kalau sampai terjadi, kondisi tersebut sangat tidak nyaman.

Penegakan Diagnosa

Diagnosis adanya scabies pada kucing bisa ditegakkan dengan cara mengamati tungau di bawah mikroskop. Sarcoptes dan Demodex dapat ditemukan dengan melakukan pengikisan kulit karena terkubur di bawah kulit, sedangkan Cheyletiella dan Otodectes dapat diusap keluar dari telinga menggunakan kapas.

Di bawah mikroskop, Demodex cati adalah tungau berbentuk cerutu dengan kaki kecil yang gemuk. Sementara Scabies Sarcoptes, Cheyletiella, dan Otodectes berbentuk oval dengan beberapa kaki. Dokter hewan Anda akan dapat mendiagnosis jenis tungau pada kucing Anda.

Pengobatan Scabies Kucing

scabies adalah
Tergantung pada jenis tungau yang dimiliki kucing Anda, rejimen pengobatan akan bervariasi. Sampo yang didalamnya mengandung obat, obat-obatan topikal, dan obat-obatan yang dapat disuntikkan semuanya bisa jadi diresepkan pada kucing Anda.

Bergantung pada tungau mana yang ditemukan, seberapa parah investasinya, dan apakah kucing Anda memiliki gejala sekunder atau tidak. Beberapa kondisi tertentu akan menentukan rencana perawatan yang digunakan. Terkadang sampo dan semprotan sederhana yang memberikan efek menenangkan akan digunakan untuk menghilangkan rasa gatal berlebih pada kucing.

Baca Juga  Hati-Hati, 5 Jenis Ular Sawah ini Perlu Diwaspadai

Langkah pertama dalam perawatan kudis adalah mengisolasi kucing Anda untuk mencegah kondisi dari mempengaruhi hewan peliharaan dan manusia lainnya. Dokter hewan akan meresepkan obat untuk membunuh tungau.

Bergantung pada jenis kudis dan kucing Anda, obat dapat dioleskan, dengan suntikan, atau dengan sampo dan celup.

Dokter hewan Anda mungkin juga meresepkan shampo antibakteri atau anti-inflamasi dan antibiotik untuk mengatasi masalah kulit dan meredakan peradangan. Meskipun tungau cepat dibunuh, hasilnya biasanya terlihat setelah satu bulan perawatan.

3 hal utama yang mendasar harus dilakukan ketika kucing Anda terkena kudis yaitu:

* Jika kucing Anda didiagnosis menderita kudis, Anda harus membersihkan atau mengganti tempat tidur, mainan, piring, dll.

* Jika Anda curiga kucing tetangga mungkin terinfeksi, jauhkan hewan peliharaan Anda dari kucing tersebut.

* Bawa kucing Anda ke dokter hewan sesuai petunjuk untuk memeriksa ulang dan memastikan tungau telah diberantas secara optinal agar tidak terjadi kudis lanjutan.

Berikut adalah beberapa obat yang biasa diberikan dokter hewan untuk perawatan scabies pada kucing:

* Selamectin

Obat topikal ini dirancang untuk kutu, cacing hati, dan kontrol parasit usus. Pada anjing, obat ini disetujui untuk mengendalikan tungau kudis sarcoptic, namun pada kucing efektif sebagai pencegahan.

* Moxidectin

Produk ini merupakan pencegahan kutu topikal bulanan lainnya yang serupa dengan yang lainnya. Seperti yang lain, penggunaan reguler bersifat preventif. Advantage Multi digunakan untuk melawan kutu, tungau telinga, heartworm, cacing gelang, dan cacing tambang.

* Ivermectin

Biasanya diberikan sebagai suntikan, obat ini adalah salah satu perawatan pertama yang digunakan terhadap Notoedres cati. Obat ini masih digunakan sampai sekarang. Perawatan biasanya mingguan atau setiap 2 minggu selama sebulan.

Dosis yang disetujui untuk mengobati kudis Notoedric berbeda saat obat ini digunakan untuk pencegahan heartworm pada kucing.

Baca Juga  Ingin Memelihara Ikan Komet? Pahami Hal Berikut

* Obat Celup

Di waktu lampau mandi belerang kapur atau amitraz dips biasa digunakan untuk mengendalikan infeksi ini. Meskipun ini berhasil, biasanya kucing tidak terlalu nyaman dengan prosesnya. Selain itu, kapur belerang memiliki bau yang sangat tidak menyenangkan dan akan menghitamkan bulu.

Amitraz cenderung menghasilkan sedasi pada beberapa pasien dan sakit kepala pada beberapa manusia. Tidak mengherankan, metode ini jarang digunakan lagi.

Harap dicatat, beberapa insektisida, dan beberapa obat scabies yang diberi label aman untuk anjing dapat menjadi racun bagi kucing.

Beberapa obat scabies juga tidak boleh diberikan berulang kali, jadi tanyakan kepada dokter hewan Anda sebelum memulai program perawatan untuk kudis. Sebaiknya jangan memberikan obat tanpa petunjuk dokter karena bisa membahayakan kucing Anda.

Cara Mencegah Scabies pada Kucing

Kebanyakan kucing rumahan yang sehat dapat menahan serangan kutu karena mereka tidak mengalami gangguan kekebalan. Tetapi seperti halnya pengendalian kutu, lingkungan yang bersih masih menjadi hal penting untuk membantu mencegah kucing terkena kudis.

Beberapa hal dasar yang dapat Anda lakukan untuk mencegah kudis pada kucing Anda termasuk mencuci tempat tidurnya dengan air panas dan deterjen serta menyedot debu rumah secara teratur. Hal-hal mudah dan sederhana tersebut bisa membantu menjaga kebersihan lingkungan kucing Anda.

Jika Anda terpapar dengan kucing yang bukan milik Anda, entah itu melalui pekerjaan penyelamatan, bekerja di fasilitas yang terdapat kucing, atau mengelus kucing di luar ruangan, sebaiknya pastikan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang kucing Anda.

Meskipun kudis adalah parasit jahat yang rentan terhadap kucing, kabar baiknya adalah bahwa kucing rumah biasa, yang sehat, tinggal di rumah dalam ruangan yang bersih dan diberi makan makanan berkualitas, seharusnya tidak pernah mengalami penyakit ini.

Referrensi:

Halodoc.com, Diakses pada 3 Agustus 2020. https://www.halodoc.com/artikel/kenali-scabies-penyakit-kulit-akibat-kutu-hewan

Bayer.co.id, Dikases Pada 3 Agustus 2020. https://www.bayer.co.id/id/produk/crop-science/animal-health/advocate-for-cats.php

Marita Ningtyas

Marita Ningtyas

A Writerpreneur, tinggal di kota Lunpia. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *