Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah, Manfaat dan Konsepnya

Artikel terakhir diperbaharui 07-06-2021 oleh Aldy Amrillah

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan otonomi manajemen pendidikan oleh satuan pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Program ini diterapkan dengan memberdayakan seluruh potensi dan stakeholder sekolah sesuai kebijakan pemerintah.

Oleh karena itu, MBS sangat penting untuk dipahami oleh guru, tenaga kependidikan, serta komite sekolah atau madrasah.

Penjelasan di bawah ini akan membantu Anda memahami dasar-dasar penting terkait pengertian, manfaat, dan konsep MBS.

Pengertian MBS

Manajemen Berbasis Sekolah atau yang sering disebut dengan MBS secara umum dapat dipahami sebagai suatu keleluasaan yang diberikan kepada kepala sekolah untuk merancang kembali pengelolaan sekolah.

Program ini diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum.

Penerapan MBS memberikan otonomi kepada kepala sekolah dimana kepala sekolah harus mampu menghadirkan partisipasi dari pemangku kepentingan pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Pemangku kepentingan pendidikan ini meliputi guru, tenaga kependidikan, komite, wali, dan masyarakat.

Adanya MBS ini mendorong kepala sekolah dan para pemangku kepentingan pendidikan bahu membahu dalam proses pengambilan keputusan serta pelaksanaannya.

school based management

Pengertian MBS Menurut Para Ahli

  • Chapman

School Based Management menurut Chapman, merujuk pada pengertian bahwa sekolah dari sudut pandang administrasi pendidikan menjadi suatu unit kecil utama yang memiliki keleluasaan dalam mengambil keputusan.

  • Candoli

Candoli dengan tegas menyatakan bahwa MBS merupakan sebuah pemaksaan pada sekolah untuk mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada peserta didiknya berdasarkan yurisdiksi dan kebijakan sekolah.

  • Gorton dan Arikunto

Selain itu, Gorton menyebut bahwa MBS identik dengan hubungan sekolah dan masyarakat sehingga harus memperhatikan iklim kehidupan keduanya. Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Arikunto.

Menurut Arikunto, MBS merupakan penataan sistem pendidikan dimana kepala sekolah diberi keleluasaan penuh untuk mengelola sekolah.

Hal ini terkait dengan kesiapan guru dan staf pengajar, pemanfaatan sumber dan fasilitas belajar, penyelenggaraan pendidikan, serta akuntabilitasnya.

  • Suparman

Suparman mendefinisikan MBS sebagai upaya penyerasian sumber daya yang ada di satuan pendidikan. Upaya ini dilakukan oleh sekolah secara mandiri dengan melibatkan pemangku kepentingan sekolah dalam pengambilan setiap keputusan demi mencapai tujuan mutu sekolah yang diatur Sisdiknas.

  • Mulyasa

Mulyasa menggambarkan konsep MBS sebagai suatu perubahan struktur penyelenggaraan sekolah. Perubahan ini membentuk suatu desentralisasi dengan mengidentifikasi sekolah sebagai unit utama peningkatan pendidikan dengan distribusi kewenangan dalam membuat keputusan.

  • Danim

Danim menyatakan bahwa MBS merupakan proses kerja komunitas sekolah yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu. Proses ini mengedepankan kaidah otonomi, partisipasi, sustainability, dan akuntabilitas.

  • Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional sendiri menyatakan bahwa MBS merupakan model manajemen yang dilaksanakan dengan memberi otonomi pada kepala sekolah.

Otonomi ini digunakan untuk mengambil keputusan bersama pemangku kepentingan sekolah demi meningkatkan mutu pendidikan.

Sebagai dasar hukum adanya MBS, UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 51 Ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan definisi pada MBS.

Ayat tersebut menyebutkan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah atau madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan.

Berdasarkan pendapat para ahli beserta dasar hukum MBS di atas, dapat dikatakan bahwa MBS merupakan suatu program pemerintah yang dijalankan melalui kebijakan sekolah.

Program ini mewajibkan sekolah mendorong seluruh pemangku kepentingan pendidikan berpartisipasi aktif.

Partisipasi aktif pemangku kepentingan pendidikan dalam terlaksananya pendidikan dan pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Karena berbasis otonomi, maka setiap sekolah dapat membuat kebijakan sendiri terkait peran pemangku kepentingan pendidikan sesuai kebutuhan sekolah.

sbm

Tujuan MBS

Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) akan memberi berbagai macam manfaat baik pada individu, sekolah, hingga sistem pendidikan pada umumnya.

Depdiknas sendiri merincikan tujuan diadakannya program MBS diantaranya sebagai berikut.

  • Mengetahui Potensi Sekolah

Dengan menerapkan MBS, sekolah sebagai lembaga pendidikan akan lebih mengetahui potensinya sendiri. Sekolah akan lebih memahami kekuatan, kelemahan, peluang, maupun ancaman bagi lembaganya.

Hal ini akan mendorong sekolah untuk lebih mengoptimalkan potensi yang ada.

  • Mengetahui Kebutuhan Sekolah

Program MBS dapat membuat sekolah lebih mengerti kebutuhan lembaganya. Hal ini terkait input pendidikan yang dijalankan dan dikembangkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

  • Mendorong Tanggung Jawab Sekolah

Penerapan MBS juga mendorong adanya tanggung jawab sekolah terkait peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu ini akan dipertanggungjawabkan pada orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah.

Hal ini memotivasi sekolah untuk mengoptimalkan pencapaian mutu pendidikan yang lebih baik.

  • Adanya Persaingan Yang Sehat

Segala hal yang dilaksanakan pada penerapan MBS membuat sekolah terlibat pada persaingan yang sehat dengan sekolah lain.

Persaingan ini bertujuan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dengan upaya inovatif yang didukung orang tua murid, masyarakat, dan pemerintah setempat.

Manfaat MBS

Sejalan dengan harapan Depdiknas, penerapan program MBS ini di lapangan memberikan berbagai macam manfaat.

Secara spesifik, penerapan MBS di sekolah akan membawa manfaat seperti di bawah ini.

  • Menghasilkan Nilai Positif Bagi Sekolah

Banyak nilai positif yang dihasilkan dari penerapan MBS bagi sekolah. Salah satunya adalah membuat sekolah lebih mengetahui kualitasnya beserta kelemahan dan ancaman yang akan dihadapi.

Kesadaran ini membuat sekolah berupaya untuk lebih mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.

Selain itu, sekolah dapat memahami hal-hal atau kebutuhan yang harus diprioritaskan. Pemahaman akan skala prioritas ini membuat dana yang digunakan lebih efektif dan efisien.

Tidak hanya itu, MBS menuntut lembaga mengambil kebijakan secara transparan dan demokratis.

Pengambilan keputusan tersebut terkait proses penetapan sasaran, perencanaan, dan pelaksanaan rencana peningkatan mutu pendidikan.

Seluruh pemangku kepentingan pendidikan pun dapat memberi evaluasi pada pelaksanaannya. Hal ini mendorong adanya upaya inovatif dari sekolah.

manajemen berbasis sekolah

  • Meningkatkan Kualitas SDM

MBS dapat meningkatkan kualitas sumber daya yang ada di sekolah. Hal ini disebabkan oleh tuntutan keterlibatan seluruh anggota sekolah untuk mengambil keputusan penting.

Keterlibatan ini memungkinkan setiap orang dituntut untuk meningkatkan kemampuannya.

Seluruh sumber daya yang ada diarahkan untuk mendukung tujuan pendidikan. Setiap anggota sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk merancang program pembelajaran yang diterapkan.

Kesempatan ini dapat memotivasi guru untuk mengembangkan diri beserta kepemimpinannya.

Selain itu, transparansi yang ditekankan pada MBS mampu menghasilkan rencana anggaran yang realistis.

Transparansi anggaran yang realistis akan membuat guru dan orang tua atau wali murid menyadari kondisi keuangan sekolah beserta pengelolaannya.

  • Meningkatkan daya guna sekolah

Manfaat MBS lainnya adalah dapat meningkatkan daya guna sekolah. Menyadari potensi beserta kelemahan sekolah, dapat memotivasi sekolah untuk mengoptimalkan sumber dayanya demi meningkatkan kemajuan lembaga.

Pengambilan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan sangat ditekankan dalam MBS. Penekanan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas seluruh pemangku kepentingan pendidikan di sekolah.

Peningkatan daya guna ini sangat berguna untuk mencapai tujuan mutu pendidikan.

Selain itu, program ini meningkatkan peran komite sekolah dan masyarakat untuk mendukung kinerja sekolah. Hal ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab sekolah kepada masyarakat dalam pengendalian mutu pendidikan.

Konsep MBS

Depdiknas telah mencanangkan konsep dasar dari pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Konsep dasar ini dibagi menjadi tiga, di bawah ini penjabarannya.

  • Otonomi

Pendidikan yang tadinya merupakan otoritas pemerintah, pada program MBS diubah menjadi otonomi sekolah.

Dengan adanya otonomi, sekolah diberi kewenangan dan keleluasaan untuk mengatur serta mengelola seluruh kepentingan sekolah.

Otonomi ini bertujuan untuk menciptakan mutu pendidikan yang baik serta mencapai tujuan masing-masing sekolah.

Konsep otonomi ini menuntut sekolah agar mampu mengurus segala kepentingannya sendiri dengan mempertimbangkan lingkungan sekitar.

  • Kemandirian

Kemandirian pada konsep ini berarti setiap langkah yang diambil dalam proses pengambilan keputusan sekolah tidak bergantung pada birokrasi sentralistik.

Sekolah diharapkan agar mampu mengelola sumber daya yang tersedia.

Selain itu, konsep kemandirian juga mengusung kebebasan pengambilan kebijakan, serta strategi dan metode pemecahan masalah.

Dalam hal ini sekolah harus mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan serta memanfaatkan peluang.

  • Demokratis

Konsep demokratis MBS berarti melibatkan seluruh elemen sekolah dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi pelaksanaan setiap program pendidikan.

Konsep ini dilakukan agar mendapat keputusan yang tepat terkait pengambilan kebijakan.

Konsep demokratis ini menuntut seluruh elemen sekolah berpartisipasi aktif serta mendukung kebijakan sekolah. Hal ini bertujuan untuk mempermudah sekolah mencapai tujuan mutu pendidikan yang menjadi sasaran sekolah.

mbs

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Penerapan MBS

Dalam penerapan MBS ini, pihak yang bersangkutan harus memperhatikan beberapa hal.

Hal-hal berikut ini akan menentukan kesuksesan program MBS yang dicanangkan pemerintah, dan dilaksanakan berdasarkan kebijakan sekolah tersebut.

  • Pengkajian Konsep

Sekolah harus mengkaji konsep MBS yang akan diterapkan terlebih dahulu. Pengkajian ini terkait perpindahan kekuasaan atau desentralisasi otonomi dari pemerintah ke sekolah.

Kekuatan desentralisasi dan kewenangan pada tingkat sekolah perlu diperhatikan.

Desentralisasi ini didukung dengan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan di instansi terkait.

Oleh karena itu, setiap elemen sekolah harus menyadari pentingnya otonomi serta keleluasaan yang diberikan kepada sekolah. Pengkajian konsep ini mendorong seluruh elemen sekolah untuk mengerti sistem pengambilan keputusan.

Dalam hal ini, keputusan harus diambil bersama seluruh elemen sekolah dengan mempertimbangkan program dan kemampuan sekolah dalam meningkatkan kinerja dan kualitasnya.

  • Penelitian Program

Berkaitan dengan desentralisasi kekuasaan, penelitian terhadap program MBS harus diperhatikan.

Perpindahan kekuasaan dari pusat menjadi otonomi sekolah membuat program ini butuh persiapan lebih matang. Terutama pada upaya pengoptimalan kinerja seluruh elemen sekolah.

Program peningkatan partisipasi (local stakeholder) yang dicanangkan dalam MBS menuntut adanya delegasi pada pengambilan keputusan.

Pendelegasian otoritas pengambilan keputusan ini berkaitan dengan pemberdayaan sekolah.

Penelitian terhadap program MBS dalam kaitannya dengan desentralisasi kekuasaan membutuhkan kesiapan serta kemampuan tersendiri.

Seluruh elemen sekolah dituntut untuk mengerti tanggung jawab yang diemban serta kualitas yang perlu dibangun dengan pelaksanaan program yang efektif.

  • Strategi

Program MBS menuntut sekolah untuk memberdayakan seluruh sumber daya dan elemen sekolah yang ada. Pengoptimalan kinerja ini membutuhkan strategi yang matang untuk dijalankan.

Tentunya strategi ini harus dipahami oleh seluruh elemen sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan.

Strategi penerapan MBS menekankan pada pengaktifan elemen menjadi sebuah manajemen partisipatif. Partisipasi aktif dari seluruh elemen ini dibutuhkan untuk menentukan efektivitas dan efisiensi kinerja sekolah.

Tolak ukur keberhasilan program ini merupakan adanya kemampuan yang memadai, transparansi informasi, dan imbalan yang memadai.

Hal-hal inilah yang akan ditekankan dalam pembuatan strategi MBS untuk meningkatkan kinerja sekolah dan mencapai tujuan dalam peningkatan mutu pendidikan.

Setiamah Setya

Perkenalkan nama saya Setiamah. Pada dasarnya bermain kata adalah bagian hoby saya sejak lama. Seiring berjalannya waktu, akhirnya jadilah dia bagian dari hidup saya sejak beragam wawasan baru saya dapatkan dari menulis berbagai tema.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *